Persatuan blok disebut sangat penting untuk menghadapi tantangan bersama dan menyerukan pendekatan baru terhadap anggaran jangka panjang Uni Eropa untuk 2028-2034.
Eropa, Suarathailand- Anadolu melaporkan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Selasa, mengatakan Uni Eropa akan terus mendukung Ukraina di tengah perang dengan Rusia sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Moskow.
“Uni Eropa akan terus mendukung Ukraina, sambil terus meningkatkan tekanan terhadap Rusia,” kata Costa setelah bertemu Kanselir Austria Christian Stocker di Wina dalam rangkaian kunjungan ke sejumlah ibu kota negara Uni Eropa.
Antonio Costa mengatakan Uni Eropa menghadapi “realitas geopolitik baru yang sangat mencolok” dan perlu mempercepat upaya memperkuat keamanan, kemakmuran, dan daya saingnya.
Ia mengatakan persatuan blok tersebut sangat penting untuk menghadapi tantangan bersama dan menyerukan pendekatan baru terhadap anggaran jangka panjang Uni Eropa untuk 2028-2034.
Costa mendesak negara-negara anggota mencapai kesepakatan pada akhir tahun ini dengan mengatakan perekonomian Uni Eropa membutuhkan kepastian dan persiapan anggaran baru yang harus diselesaikan sebelum mulai berlaku pada Januari 2028.
Ia mengatakan anggaran tersebut harus memprioritaskan industri, inovasi, keamanan, dan perlindungan perbatasan, sembari mempertahankan kebijakan kohesi dan pertanian.
Costa juga mengatakan persiapan untuk pertemuan Dewan Eropa pada Oktober telah dibahas, termasuk isu migrasi.
“Migrasi merupakan tantangan Eropa yang membutuhkan respons Eropa,” katanya.
Mengenai perluasan keanggotaan Uni Eropa, Costa mengatakan mendukung Ukraina, Moldova, dan negara-negara Balkan Barat dalam perjalanan mereka menuju keanggotaan, merupakan investasi bagi keamanan dan kemakmuran Eropa.
Ia mengatakan proses tersebut tetap didasarkan pada kinerja dan berlandaskan prinsip supremasi hukum.
Ketika ditanya mengenai pemilihan presiden Prancis pada musim semi mendatang, Costa menolak berkomentar dan menyebutnya sebagai urusan politik internal.
“Kami adalah persatuan negara-negara demokrasi dan menghormati seluruh hasil pemilu. Ini merupakan urusan warga negara, bukan urusan kami,” katanya.
Pemilihan presiden Prancis dijadwalkan berlangsung pada 18 April tahun depan, dengan putaran kedua pada 2 Mei jika tidak ada kandidat yang memperoleh mayoritas pada putaran pertama.
Emmanuel Macron, yang menghadapi batas masa jabatan dua periode, tidak dapat mencalonkan diri kembali.



