"Amerika Serikat saat ini sedang memproduksi lebih banyak Senjata Istimewa dan Elit (Exquisite and Elite Weapons) dibandingkan waktu kapan pun dalam sejarah kita," tulis Donald Trump.
AS, Suarathailand- CNBC melaporkan laporan terbaru dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkapkan fakta mengejutkan terkait dampak konflik di Timur Tengah. Serangan balasan Iran dilaporkan telah merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta fasilitas di berbagai basis militer AS di wilayah tersebut. Selain kerusakan infrastruktur, puluhan armada pesawat tempur militer AS juga tercatat mengalami kerusakan signifikan hingga akhir Juni lalu.
Dalam laporan Lead Inspector General yang diserahkan kepada Kongres AS, dikutip CNBC, Selasa (15/9/2026), total biaya operasi militer dan dampak perang dengan Iran diperkirakan telah menelan biaya fantastis mencapai 33,4 miliar dolar AS (sekitar Rp 518 triliun). Angka tersebut mencakup kerusakan fisik senilai 184 juta dolar AS pada fasilitas diplomatik Amerika Serikat di empat negara kawasan, yakni Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Skala pertempuran yang begitu masif juga memicu krisis pasokan logistik senjata bagi militer Paman Sam. Laporan tersebut menyoroti bahwa pengeluaran amunisi AS secara besar-besaran selama konflik telah menyebabkan kelangkaan persediaan strategis (strategic inventory shortfalls). Kondisi ini sekaligus membongkar hambatan serius (bottlenecks) pada industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pasokan ulang amunisi.
Menanggapi situasi yang menjadi sorotan publik tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan peryataannya melalui sebuah unggahan media sosial sebelum laporan resmi dikeluarkan. Trump menegaskan bahwa industri pertahanan Amerika Serikat saat ini tengah bekerja dalam kapasitas penuh untuk memproduksi persenjataan kelas atas demi menyokong kebutuhan militer mereka.
"Amerika Serikat saat ini sedang memproduksi lebih banyak Senjata Istimewa dan Elit (Exquisite and Elite Weapons) dibandingkan waktu kapan pun dalam sejarah kita," tulis Donald Trump dalam unggahannya untuk menepis kekhawatiran publik mengenai ketersediaan stok senjata.
Kendati demikian, data resmi laporan Pentagon mencatatkan rekor kelam bagi armada udara militer AS. Untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbangan militer, sebuah jet tempur generasi kelima F-35A dilaporkan mengalami kerusakan akibat tembakan musuh. Selain itu, empat jet tempur F-15E Strike Eagle dan satu pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II dinyatakan hancur total akibat rentetan serangan tersebut.
Berdasarkan data Angkatan Udara AS, kehilangan armada udara tersebut menelan kerugian finansial yang terbilang sangat masif. Satu unit pesawat tempur canggih F-35A bernilai sekitar 92 juta Dolar AS (sekitar Rp1,4 triliun), sementara satu unit F-15E diperkirakan berbiaya 31,1 juta Dolar AS berdasarkan patokan harga pada tahun 1998 silam.



