Tim SAR Nepal Buat Lubang Cari 100 Pekerja Terjebak dalam Terowongan PLTA

Lebih dari 100 pekerja mungkin masih hidup dan terjebak di dalam terowongan-terowongan PLTA Nepal lokasi Trishuli 3A dan 3B.


Nepal, Suarathailand- Tim penyelamat di Nepal dan Tiongkok berjuang pada hari Minggu untuk menemukan ribuan orang yang hilang setelah terjangan air dan puing yang mematikan menyapu wilayah Himalaya, menenggelamkan seluruh desa.

Data dari kedua negara mencatat jumlah orang hilang mendekati 3.000 jiwa, dengan 691 jenazah telah ditemukan—dan terdapat laporan bahwa beberapa korban tewas mungkin terseret arus hingga ke wilayah India.

Bencana yang melanda perbatasan Tiongkok-Nepal pada Rabu pagi itu disebabkan oleh runtuhnya gletser, yang memicu aliran air dan puing dahsyat ke arah hilir, menurut Survei Geologi AS (USGS).

Angkatan Darat Nepal pada hari Minggu berupaya menyelamatkan para pekerja yang diyakini terjebak di dalam terowongan di lokasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Trishuli 3A, setelah mereka berhasil memasukkan pipa ke dalam lorong tersebut.

Tim penyelamat telah "mulai mengalirkan udara melalui celah kecil itu," kata Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, dalam sebuah pernyataan. 

Namun, upaya penyelamatan pada hari Minggu terkendala oleh hujan dan naiknya permukaan air sungai, sehingga otoritas penanggulangan bencana Nepal mengimbau tim penyelamat untuk berhati-hati.

Lebih dari 100 pekerja mungkin masih hidup dan terjebak di dalam terowongan-terowongan tersebut, dengan upaya penyelamatan yang difokuskan pada lokasi Trishuli 3A dan 3B.

Meskipun penyebab pasti keruntuhan tersebut belum jelas, perubahan iklim menyebabkan mencairnya gletser di seluruh dunia, sehingga meningkatkan risiko terjadinya bencana semacam itu.

"Runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang ini merupakan pengingat yang menyakitkan betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini," ujar kepala iklim PBB, Simon Steill, dalam sebuah pernyataan.


Tidak Ada yang Tersisa

Para penyintas harus menanti dengan penuh kecemasan untuk mengetahui nasib kerabat mereka yang hilang, serta menghadapi kenyataan pahit harus membangun kembali kehidupan mereka dari nol.

"Semua permukiman di dekat sungai tersapu bersih," kata Buddhi Ram Dangol kepada AFP di distrik Nuwakot, Nepal. "Tidak ada lagi yang tersisa."

Di sebuah pangkalan militer yang menjadi pusat utama penyelamatan di Bidur, kerabat para korban berkerumun melihat daftar nama orang yang berhasil diselamatkan yang ditempel di dinding.

"Saya datang ke sini untuk mencari anak laki-laki saya," ujar Kalka Sharda sembari memindai daftar tersebut dengan penuh keputusasaan. Di wilayah yang menjadi lokasi proyek infrastruktur energi berskala besar, otoritas penanggulangan bencana Nepal mencatat 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) termasuk dalam daftar orang hilang, bersama dengan 517 warga asing—termasuk para pendaki dan peziarah Hindu yang hendak menuju Gunung Kailash yang disucikan di Tibet.

Isha Foundation, yang dipimpin oleh guru asal India, Sadhguru, menyatakan dalam sebuah unggahan Instagram pada hari Sabtu bahwa 80 anggotanya sedang melakukan perjalanan kelompok di wilayah tersebut.

"Saat ini, tampaknya tidak ada tanda-tanda menggembirakan mengenai adanya korban selamat di area kantor imigrasi," demikian bunyi unggahan tersebut.



Sementara itu di India, para pejabat mengatakan telah menemukan tujuh jenazah dari sungai-sungai yang mengalir dari Nepal; jenazah-jenazah tersebut diduga merupakan korban banjir.

Share: