“Suhu panas yang luar biasa di Eropa terjadi di tengah krisis biaya bahan bakar fosil yang masih berlangsung. Keduanya mendorong kenaikan harga bagi rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah dalam pukulan ganda yang mematikan.”
Eropa, Suarathailand- Ssputnik melaporkan Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell, Kamis (10/9), menyatakan panas ekstrem dan ketergantungan Uni Eropa terhadap impor bahan bakar fosil telah memperburuk inflasi di Eropa.

“Suhu panas yang luar biasa di Eropa terjadi di tengah krisis biaya bahan bakar fosil yang masih berlangsung. Keduanya mendorong kenaikan harga bagi rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah dalam pukulan ganda yang mematikan,” katanya dalam pertemuan Komite Parlemen Eropa untuk Iklim dan Keamanan Pangan di Brussels.
Stiell menambahkan “ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil yang harganya bergejolak telah lama menjadi kelemahan ekonomi Eropa.”
“Rumah tangga dan dunia usaha harus menghadapi tagihan yang lebih tinggi. Kini, krisis bahan bakar lainnya pada musim dingin Eropa mulai mengancam akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” kata Stiell.
Sebuah kajian menyebut cuaca ekstrem pada musim panas tahun ini diperkirakan menimbulkan kerugian sebesar 180 miliar euro (209 miliar dolar AS atau sekitar Rp3,67 triliun) bagi Eropa akibat hilangnya produktivitas tenaga kerja serta gangguan terhadap sektor pangan, energi, dan transportasi.



