Waduh, Jepang Catat 5 Ribu Kasus Libatkan Personel Militer AS Dalam 37 Tahun

Sebanyak 2.447 kasus atau 49,0 persen di antaranya terjadi di Prefektur Okinawa, di lokasi pangkalan mliter AS di Jepang.


Jepang, Suarathailand- Xinhua melaporkan Badan Kepolisian Nasional Jepang mencatat 4.998 kasus kriminal di seluruh negeri yang melibatkan personel militer dan pegawai sipil Amerika Serikat (AS), serta anggota keluarga mereka dari tahun 1989 hingga Mei 2026, dengan hampir separuhnya terjadi di Prefektur Okinawa, menurut laporan media.

Sebanyak 2.447 kasus atau 49,0 persen di antaranya terjadi di Prefektur Okinawa, 18,3 persen terjadi di Prefektur Kanagawa, dan 8,9 persen terjadi di Tokyo, demikian dilaporkan surat kabar Akahata.

Di periode yang sama, sebanyak 266 kasus kejahatan berat, termasuk pembunuhan, perampokan, pembakaran yang disengaja, dan pemerkosaan, terjadi di seluruh negeri. Dari jumlah tersebut, 129 kasus terjadi di Okinawa, 67 di Kanagawa, dan 34 di Tokyo.

Laporan itu mengaitkan tingginya angka kejahatan yang melibatkan personel terkait militer AS dengan beban menampung pangkalan militer AS, serta menyatakan bahwa pemerintah Jepang dan AS gagal mengambil langkah-langkah efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Situasi ini sangat mencolok di Okinawa, wilayah yang hanya mencakup sekitar 0,6 persen dari total luas daratan Jepang namun menampung sekitar 70 persen dari seluruh fasilitas dan instalasi militer AS yang digunakan secara eksklusif di negara tersebut.

Jumlah kasus kriminal yang melibatkan personel terkait militer AS di Okinawa mencapai 101 kasus tahun lalu, melampaui angka 100 untuk pertama kalinya sejak 2003. Menurut laporan Akahata, proporsi kasus di Prefektur Okinawa terhadap total kasus nasional juga mencatat rekor sebesar 67,8 persen, yang menjadi angka tertinggi sejak 1989.

Pada 4 Oktober, kepolisian Okinawa menangkap seorang anggota Korps Marinir AS yang ditempatkan di Pangkalan Udara Korps Marinir Futenma karena dicurigai merampok dan membunuh seorang wanita setempat. Kasus ini kembali memicu kemarahan publik di prefektur tersebut.



Share: