Badan pertahanan sipil menyatakan bahwa gedung tersebut, yang menampung lebih dari 100 pengungsi, telah mengalami kerusakan akibat serangan Israel sebelumnya.
Gaza, Suarathailand- Otoritas Gaza pada hari Rabu menyatakan bahwa 21 orang, termasuk lima anak-anak, tewas setelah sebuah gedung apartemen runtuh akibat kerusakan yang diderita dalam serangan Israel sebelumnya.
Menurut badan pertahanan sipil—yang bertugas sebagai layanan penyelamatan di bawah otoritas Hamas—gedung berlantai enam dengan empat unit apartemen di setiap lantainya itu runtuh pada malam hari menimpa rumah-rumah dan tenda-tenda di dekatnya di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagian besar bangunan di Gaza telah rusak atau hancur akibat serangan Israel selama perang dengan Hamas berlangsung.
Di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, jurnalis AFP melihat sejumlah pria menangis sambil menggendong jenazah anak-anak yang dibalut kain kafan putih.
Para kerabat berjongkok di lantai untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada orang-orang terkasih mereka, sembari menciumi wajah jenazah di tengah isak tangis.
"Bangunan-bangunan ini tak ubahnya bom waktu," ujar Ahmed Al-Ajla, yang paman serta kerabat lainnya tewas dalam peristiwa runtuhnya gedung tersebut.
"Sebelum meninggal, paman saya... telah mengalami pengungsian, kemiskinan, penahanan, dan kehilangan," kata Ajla kepada AFP.
"Perang belum usai, karena masih ada bom waktu berupa rumah-rumah yang berada di ambang keruntuhan."
Badan pertahanan sipil menyatakan bahwa gedung tersebut, yang menampung lebih dari 100 pengungsi, telah mengalami kerusakan akibat serangan Israel sebelumnya.
Disebutkan pula bahwa tim mereka, "setelah bekerja keras selama berjam-jam... berhasil mengevakuasi jenazah 21 orang yang terjebak di bawah reruntuhan."
Pihak pertahanan sipil juga menyatakan telah membantu membawa 45 orang yang terluka ke rumah sakit.
Dalam laporan jumlah korban sebelumnya, juru bicara badan pertahanan sipil, Mahmoud Basal, menyebutkan bahwa lima anak-anak termasuk di antara korban tewas.
Basal mengatakan gedung itu telah dihantam beberapa kali pada tahun 2024 dan Maret 2025, yang memicu peringatan bagi warga Gaza untuk tidak kembali ke sana.
"Mereka tidak punya pilihan lain. Tanpa ketersediaan tenda maupun rumah, mereka terpaksa tinggal di bangunan yang retak dan rusak meskipun ada risiko bangunan itu runtuh," tambahnya.
Sebelumnya pada hari Rabu, rekaman video AFP memperlihatkan gedung tersebut telah hancur menjadi tumpukan besar beton yang berserakan, menjulang tinggi di atas tim penyelamat yang mengenakan rompi visibilitas tinggi saat mereka melakukan upaya pencarian yang mendesak.
Ekskavator yang membawa bendera Mesir bekerja menyingkirkan puing-puing, sementara tim penyelamat dan sukarelawan mengevakuasi jenazah korban.
"Teman dan tetangga saya tinggal di gedung ini. Saya datang untuk membantu teman saya mengambil pakaian dan kasur. Saat ini dia tidak memiliki tempat tinggal atau rumah," ujar Mohannad al-Mashharawi kepada AFP.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan telah memasok perlengkapan untuk membantu upaya pencarian atas permintaan otoritas setempat.
Risiko Besar
Israel melancarkan serangan tanpa henti ke Gaza setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang—serangan paling mematikan yang pernah dialami Israel menurut data resmi negara tersebut.
Kampanye militer Israel yang menyusul kemudian telah menewaskan lebih dari 73.700 orang, menurut kementerian kesehatan Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas dan datanya dianggap dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Akibat banyaknya warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal serta kelangkaan parah material bangunan, banyak penduduk Gaza nekat mengambil risiko dengan menempati bangunan-bangunan yang kondisinya sudah rapuh.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, Ramiz Alakbarov, mengaku sangat terpukul mendengar kabar pada hari Rabu tersebut.
"Tragedi hari ini menyoroti risiko besar yang dihadapi keluarga-keluarga yang tinggal di bangunan-bangunan ini serta kebutuhan mendesak akan alternatif tempat tinggal yang lebih aman. Tidak seorang pun seharusnya harus mempertaruhkan nyawa hanya demi mendapatkan tempat berlindung yang aman," ujarnya.
Badan pertahanan sipil Gaza telah mengidentifikasi sekitar 2.000 bangunan di wilayah tersebut yang dinilai berisiko runtuh.
Israel telah mengizinkan masuknya bantuan tambahan ke Gaza sejak deklarasi gencatan senjata yang ditengahi AS pada Oktober 2025.
Namun, Israel terus melancarkan serangan dan membatasi masuknya berbagai peralatan yang menurut mereka dapat digunakan untuk kepentingan militer.




