Hashim Thaci pernah dipandang sebagai simbol kepahlawanan dalam perjuangan berdarah demi kemerdekaan dari Serbia.
Kosovo, Suarathailand- Mantan presiden Kosovo, Hashim Thaci, yang pada hari Rabu dijatuhi hukuman 25 tahun penjara atas kejahatan perang, telah lama dipandang di negara Balkan tersebut sebagai pahlawan gerilya dan simbol perjuangan kemerdekaan yang penuh pertumpahan darah.
Thaci—yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan khusus di Den Haag atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pejuang gerilya, termasuk pembunuhan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, perlakuan kejam, serta penyiksaan—memimpin Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) yang pro-kemerdekaan selama perang melawan Serbia pada tahun 1998-1999.
Popularitas pria berusia 58 tahun ini—yang juga pernah menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari tujuh tahun—melonjak saat ia turut mengawal deklarasi kemerdekaan Kosovo pada tahun 2008.
Namun, citranya tercoreng oleh laporan Dewan Eropa tahun 2010 yang menduga adanya keterkaitan dengan kejahatan terorganisir serta pelanggaran berat yang dilakukan selama dan segera setelah perang berakhir.
Para kritikus juga menuduh mantan pemimpin tersebut beserta partainya melakukan korupsi dan memusatkan kekuasaan di kalangan sekutu politik.
Akan tetapi, tuduhan terkait masa perang itulah yang secara tiba-tiba mengakhiri masa kepresidenannya dan membuatnya harus menjalani penahanan di Den Haag.
Ia didakwa pada tahun 2020 atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan; ia dituduh memikul tanggung jawab atas pembunuhan, penyiksaan, penahanan ilegal, dan penghilangan paksa selama serta setelah konflik berlangsung.
"Ini bukanlah saat-saat yang mudah bagi saya dan keluarga, maupun bagi mereka yang telah mendukung dan memercayai saya selama tiga dekade perjuangan kita demi kebebasan, kemerdekaan, dan pembangunan bangsa," ujarnya pada tahun 2020, saat ia mengumumkan pengunduran diri dan penyerahan diri ke pengadilan.
Banyak orang menyaksikan pembacaan putusan tersebut secara langsung melalui layar di sebuah alun-alun di ibu kota, Pristina, tempat jam hitung mundur menuju pembacaan putusan telah berjalan selama berhari-hari.
Pada hari Sabtu, puluhan ribu orang berkumpul di Pristina untuk menuntut pembebasan Thaci dan para mantan pemimpin gerilya lainnya dari segala tuduhan.
Lahir pada tahun 1968 di wilayah Drenica, Kosovo bagian barat—yang merupakan pusat perlawanan etnis Albania terhadap kekuasaan Serbia—Thaci mulai terlibat dalam upaya perlawanan pasif terhadap pemerintahan Beograd saat ia masih menjadi mahasiswa pada tahun 1990-an.
Saat menempuh studi sejarah di Swiss—negara yang menjadi rumah bagi komunitas diaspora Albania dalam jumlah besar—ia merasa frustrasi dengan kebijakan perlawanan damai yang diusung oleh mendiang Presiden Kosovo, Ibrahim Rugova.
Sekembalinya ke Kosovo, ia mendapat julukan "Snake" (Ular) saat membantu membentuk pasukan gerilya bawah tanah, KLA, untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan pasukan pemimpin kuat Serbia, Slobodan Milosevic.
Konflik tersebut menelan korban jiwa sekitar 13.000 orang—sebagian besar merupakan etnis Albania—dan berakhir setelah NATO melakukan intervensi pada tahun 1999 serta mendesak pasukan Serbia untuk mundur.
Pengadilan internasional kemudian menjatuhkan vonis terhadap sejumlah pejabat tinggi militer dan kepolisian Serbia atas kejahatan yang dilakukan selama konflik berlangsung.
Seiring upaya Kosovo untuk meraih status negara berdaulat, Thaci muncul sebagai salah satu tokoh politik paling terkemuka di wilayah tersebut.
Dalam sebuah kunjungan ke Gedung Putih, Joe Biden—yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden AS—menyebutnya sebagai "George Washington-nya Kosovo".
'Kejahatan perang, tidak pernah'
Setelah wafatnya Rugova, sosok yang secara luas dianggap sebagai bapak bangsa, Thaci menjabat sebagai perdana menteri menyusul pemilihan umum tahun 2007.
Tiga bulan kemudian, ia membacakan deklarasi kemerdekaan di hadapan parlemen, yang menandai pemisahan sepihak Kosovo dari Serbia—sebuah langkah yang hingga kini tidak diakui oleh Beograd.
Meskipun sempat diterpa tuduhan korupsi, ia tetap menjadi tokoh sentral dalam kancah politik dan terpilih sebagai presiden pada tahun 2016.
Ia senantiasa membantah melakukan pelanggaran apa pun selama masa perang, dan menyebut perjuangan tersebut sebagai pemberontakan yang "adil" melawan penindasan Serbia.
"Kesalahan politik di masa damai mungkin saja pernah saya lakukan, namun kejahatan perang, tidak pernah," ujarnya pada tahun 2020.



