Thailand hadapi fenomena overtourism seperti yang pernah terjadi di Thailand sebelum pandemi.
Thailand mewaspadai fenomena kunjungan turis berlebih di sejumlah wilayah. Operator pariwisata Thailand meminta pemerintah menangani isu ini secara serius.
Sekretaris Jenderal Federasi Asosiasi Pariwisata Thailand (Fetta) Adith Chairattananon, mengatakan pihaknya akan menyampaikan pada pemerintah soal fenomena overtourism seperti yang pernah terjadi di Thailand sebelum pandemi.
Adith mengatakan dengan perkiraan kedatangan 40 juta turis, destinasi seperti Phuket, Samui dan Pattaya berada di ambang overtourism.
Adith menyebut bahwa pada musim liburan, Phuket telah mengalami macet berlebih dan kekurangan air, bahkan bandara internasional juga kekurangan tempat untuk mendaratnya pesawat.

Salah satu kuncinya, sebut Adith, adalah menarik minat para wisatawan dari tempat populer ke kota-kota lain yang juga menawarkan hiburan penuh potensi serta memiliki ruang lebih untuk menampung arus wisatawan yang jumlahnya signifikan.
Selain itu, Adit juga menyebut bahwa harus ada insentif bagi maskapai penerbangan yang ingin mengoperasikan penerbangan langsung ke bandara provinsi seperti U-tapao, dan bandara yang melayani tujuan Khon Kaen dan Krabi. Hal ini akan mengurangi kepadatan di bandara yang padat pengunjung seperti Bandara Phuket atau Bandara Suvarnabhumi, dan juga akan membantu menciptakan peluang bisnis regional.
Lebih lanjut, otoritas terkait juga harus mempercepat konektivitas antara bandara hingga pusat kota. Misalnya, kurangnya akses bus umum dari Bandara U-tapao ke Kota Pattaya membuat maskapai baru enggan mengoperasikan penerbangan karena situasi saat ini tidak nyaman bagi penumpang.
Surawat Akaraworamat, wakil presiden Dewan Pariwisata Thailand (TCT), mengatakan pemerintah harus mempertimbangkan kembali penarikan biaya pariwisata sebesar 300 baht atau sekitar Rp131 ribu untuk membantu mendanai pengembangan pariwisata sesuai rencana.
Surawat mengatakan dana penting itu akan bermanfaat bagi pembangunan infrastruktur di provinsi-provinsi lapis kedua, untuk menarik wisatawan menjauh dari lokasi-lokasi yang padat memperbaiki objek wisata yang rusak akibat overtourism.
Surawat mengatakan biaya sebesar 300 baht akan membantu otoritas pariwisata menerima anggaran yang lebih besar.
Dia mengatakan pajak yang hanya sebesar 300 baht tidak akan menyurutkan semangat wisatawan asing untuk mengunjungi Thailand. Angka tersebut tidak semahal yang diterapkan negara lain seperti Bhutan yang memungut pajak turis sebesar USD 100 atau Rp1,6 juta per malam.




