Rusia Terbuka Gencatan Senjata Terbatas, Namun Bukan untuk Akhiri Perang

Moskow menegaskan tidak akan mengurangi intensitas perang secara keseluruhan, bahkan saat kedua belah pihak bersiap untuk melanjutkan kembali perundingan yang sempat terhenti di bawah mediasi AS bulan depan.


Moskow, Suarathailand- Rusia menyatakan pada hari Senin bahwa mereka tidak akan mengendurkan serangan terhadap Ukraina, meskipun akan ada pembicaraan yang ditengahi oleh AS untuk mengakhiri konflik. Namun, Rusia menyatakan kesediaannya untuk menyepakati gencatan senjata "kemanusiaan" di tingkat lokal.

Kremlin menyatakan terbuka terhadap gencatan senjata "kemanusiaan" jangka pendek di sepanjang garis depan, menjelang jeda pertempuran di kota Oleshky—kota yang diduduki Rusia dan kini dalam kondisi porak-poranda.

Gencatan senjata dijadwalkan dimulai di kota di wilayah selatan Ukraina tersebut pada Selasa pagi. Kesepakatan ini dicapai melalui upaya Ibu Negara AS, Melania Trump, menyusul laporan selama berbulan-bulan mengenai penduduk yang mengalami kekurangan pangan, air, dan obat-obatan yang parah.

Saat ditanya apakah Rusia akan mempertimbangkan lebih banyak gencatan senjata lokal, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada wartawan: "Untuk tujuan kemanusiaan, tentu saja."

Namun, Moskow menegaskan tidak akan mengurangi intensitas perang secara keseluruhan, bahkan saat kedua belah pihak bersiap untuk melanjutkan kembali perundingan yang sempat terhenti di bawah mediasi AS bulan depan.

"Keputusan untuk melanjutkan pembicaraan trilateral tidak menyiratkan adanya pembatasan apa pun terhadap operasi tempur," ujar Peskov.

"Angkatan bersenjata kami terus melancarkan serangan besar-besaran terhadap kompleks industri militer Ukraina," tambahnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia telah meningkatkan serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal ke Ukraina, menyasar fasilitas energi di sekitar kota-kota besar. Menurut Kyiv, langkah ini bertujuan untuk membuat negara tersebut jatuh ke dalam kondisi dingin dan gelap sepanjang musim dingin.

Serangan tahun lalu menyebabkan jutaan orang kehilangan akses pemanas atau listrik, di tengah suhu yang mencapai -20 derajat Celsius.

Kedua belah pihak dijadwalkan bertemu bulan depan bersama utusan AS untuk membahas cara mengakhiri konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

Beberapa putaran perundingan sebelumnya gagal membawa kedua pihak lebih dekat pada sebuah kesepakatan. Rusia menuntut wilayah tambahan di Ukraina timur serta pembatasan militer dan politik yang luas terhadap Kyiv.

Ukraina dan sekutunya menyatakan bahwa tuntutan tersebut sama saja dengan kapitulasi (penyerahan diri), yang akan membuat Ukraina rentan terhadap serangan Rusia di masa depan.

Share: