AS, Suarathailand- Amerika Serikat memperingati satu tahun Perjanjian Damai Kuala Lumpur, seraya mengakui peran Donald Trump dalam mempertemukan Thailand dan Kamboja.
Amerika Serikat telah memperingati satu tahun Perjanjian Damai Kuala Lumpur antara Thailand dan Kamboja. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyoroti peran Presiden Donald Trump dalam menyatukan kedua negara tersebut.
Dalam sebuah pernyataan tertanggal 25 Oktober, Rubio menyebut perjanjian itu sebagai pencapaian diplomatik penting yang terwujud berkat kepemimpinan Trump serta komitmennya terhadap perdamaian.
"Amerika Serikat terus bekerja sama dengan kedua belah pihak untuk mendukung pelaksanaan perjanjian ini dan membantu mewujudkan janji perdamaian abadi bagi rakyat kedua negara," ujar Rubio.
Perjanjian tersebut ditandatangani di Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025 oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, dengan Trump serta Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim hadir sebagai saksi.
Gedung Putih menyebut kesepakatan ini sebagai Perjanjian Damai Kuala Lumpur, sementara Kementerian Luar Negeri Thailand mendeskripsikan dokumen yang ditandatangani tersebut sebagai Deklarasi Bersama antara Perdana Menteri Kerajaan Kamboja dan Perdana Menteri Kerajaan Thailand mengenai hasil pertemuan mereka di Kuala Lumpur.
Perjanjian menetapkan langkah-langkah untuk mengurangi ketegangan di perbatasan
Deklarasi ini menyusul gencatan senjata yang dicapai pada Juli 2025 dan menetapkan serangkaian langkah yang bertujuan untuk meredakan ketegangan serta menciptakan kondisi bagi perdamaian abadi di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja.
Kedua belah pihak menegaskan kembali komitmen mereka untuk tidak menggunakan ancaman atau kekerasan, serta menyelesaikan sengketa secara damai sesuai dengan hukum internasional.
Perjanjian tersebut juga mencakup langkah deeskalasi militer, termasuk penarikan senjata berat dan destruktif dari wilayah perbatasan kembali ke posisi militer normal, di bawah pengaturan pemantauan dan verifikasi.
Thailand dan Kamboja juga sepakat untuk membentuk Tim Pengamat ASEAN—yang terdiri dari personel negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara—guna mendukung pemantauan gencatan senjata tersebut.
Komitmen lainnya mencakup pembersihan ranjau untuk tujuan kemanusiaan di wilayah perbatasan serta langkah-langkah untuk mencegah penyebaran informasi palsu, tuduhan, dan retorika provokatif yang dapat meningkatkan ketegangan.
AS menandai peringatan satu tahun perjanjian damai Thailand-Kamboja, memberikan apresiasi kepada Trump.
Mekanisme perbatasan yang sudah ada tetap dipertahankan.
Deklarasi tersebut menegaskan kembali bahwa sengketa perbatasan dan masalah demarkasi harus diselesaikan secara damai melalui mekanisme bilateral yang telah ada.
Mekanisme ini meliputi Komite Perbatasan Regional (Regional Border Committee), Komite Perbatasan Umum (General Border Committee), dan Komisi Batas Bersama Thailand-Kamboja (Thailand-Cambodia Joint Boundary Commission).
Kedua negara juga sepakat untuk memperkuat kerja sama, pertukaran informasi, dan pengendalian perbatasan guna memerangi kejahatan transnasional yang berdampak pada warga di kedua sisi.
Kementerian Luar Negeri Thailand pada saat itu menyebut deklarasi tersebut sebagai langkah signifikan menuju penurunan ketegangan, dengan menyoroti penarikan senjata berat, pembersihan ranjau untuk tujuan kemanusiaan, penindakan terhadap kegiatan ilegal, serta penanganan masalah pelanggaran batas wilayah sebagai elemen-elemen utamanya.
Rubio menyatakan bahwa Washington akan terus bekerja sama dengan Bangkok dan Phnom Penh untuk mendukung pelaksanaan komitmen mereka serta memajukan prospek perdamaian jangka panjang di antara kedua negara tetangga tersebut.



