Ngeri, AS dan Israel Berupaya Satukan Negara-Negara Kawasan Melawan Iran


Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam Washington dan rezim Tel Aviv karena berupaya menyatukan negara-negara Teluk Persia untuk melawan Teheran.

"Kini, dengan pecahnya perang yang sedang berlangsung, Israel dan Amerika Serikat berupaya menyatukan negara-negara Teluk Persia untuk melawan kami, dan kami, di pihak kami, berupaya mencegah hal itu terjadi," ujarnya dalam bagian ketiga sekaligus terakhir dari siaran televisi yang ditayangkan pada hari Jumat, bertepatan dengan peringatan dua tahun pelantikannya.

Terlepas dari provokasi yang dilakukan oleh Tel Aviv dan Washington, Iran meyakini persatuan umat Islam dan tidak memandang perpecahan antara Muslim Syiah dan Sunni sebagai dasar untuk memisahkan satu sama lain, ungkap pejabat senior tersebut.

"Ini adalah keyakinan dan pendirian saya, dan saya mengatakannya bukan sebagai slogan, melainkan karena saya sungguh-sungguh meyakininya: sesama Muslim adalah saudara," tambahnya.

Pezeshkian menepis anggapan bahwa Iran berupaya melakukan ekspansi wilayah atau berniat menyerang negara-negara tetangga, serta membedakan posisi resmi ini dengan ambisi wilayah rezim Israel.

"Kami tidak memiliki niat untuk menyerang negara lain, merebut wilayah, atau memperluas perbatasan kami. Berbeda dengan kaum Zionis, yang justru mengincar 'Israel Raya' (Greater Israel)... Kami bertetangga dengan negara-negara di kawasan ini, kami berbagi perbatasan dengan mereka, dan kami harus hidup berdampingan..." ujarnya.

Presiden lebih lanjut menyoroti peran negara-negara kawasan dalam agresi asing terbaru yang menargetkan Iran, dengan mengatakan bahwa pasukan AS telah menggunakan wilayah negara-negara tersebut untuk menyerang Republik Islam Iran.

"Pertanyaannya adalah: Dari mana mereka (para agresor) menyerang Sekolah Minab?" tanyanya, merujuk pada sebuah sekolah yang menjadi sasaran serangan di Iran selatan pada tahap awal gempuran yang menewaskan 168 orang tersebut.

"Dari negara-negara Muslim dan sahabat itu sendiri," ujarnya.

"Mengapa mereka membiarkan pihak tersebut datang dan menyerang kami? Kami tidak ingin menargetkan negara-negara itu; kami menyerang lokasi asal serangan yang ditujukan kepada kami," tambah Pezeshkian, merujuk pada serangan balasan Iran terhadap kepentingan Amerika di negara-negara yang membiarkan wilayah mereka digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap Republik Islam Iran. 

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima tekanan yang bertujuan memaksa negara itu untuk tunduk, seraya menekankan bahwa Republik Islam tersebut akan terus mempertahankan apa yang dianggapnya sebagai hak-haknya serta menjaga kemampuan militer dan pertahanannya.

"Jika mereka berusaha memaksa kita untuk tunduk, kita akan melawan. Kita tidak akan mundur ataupun menundukkan kepala. Ketika kita mampu mengamankan hak-hak kita, mengapa kita harus menempuh jalan yang diinginkan oleh Israel?" ujar pemimpin tersebut.

Pezeshkian menepis kemungkinan Iran melepaskan kemampuan militer dan kekuatan pertahanannya, serta menyatakan bahwa mempertahankan hal-hal tersebut adalah masalah yang tidak bisa dikompromikan oleh negara itu.

"Apakah pantas bagi kita untuk menerima penghapusan seluruh kemampuan militer dan kekuatan pertahanan kita, lalu tunduk di hadapan mereka (pihak lawan)? Kita tidak akan melakukan hal semacam itu," tambahnya.

Ia juga menggambarkan respons militer Iran dalam rangkaian serangan tanpa provokasi dari Amerika dan Israel baru-baru ini sebagai tindakan pertahanan, serta memuji kinerja Angkatan Bersenjata negara tersebut.

"Kita terpaksa membela diri, dan demi Tuhan, para pejuang kita—Angkatan Dirgantara, Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan seluruh personel militer kita—melakukan perlawanan sengit dan membuat dunia takjub," kata Pezeshkian. Farsnews

Share: