Militer Thailand Siaga di Perbatasan Usai Pasukan Junta Myanmar Kalah

Menlu Thailand telah berbicara dengan Myanmar bahwa Thailand tidak ingin melihat kekerasan di perbatasan.

 

Angkatan bersenjata Myanmar yang dulunya perkasa telah menderita serangkaian kekalahan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Oktober 2023. Milter Myanmar kehilangan sebagian besar wilayah termasuk pos perbatasan yang dikuasai pejuang etnis dan unit gerilya.

Warga sipil mengangkat senjata setelah para jenderal merebut kekuasaan pada tahun 2021 dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi. Militer sering kali melakukan serangan balik dengan menggunakan kekuatan udara.

Ada kekhawatiran bahwa militer Myanmar akan melancarkan serangan balik terpadu terhadap Myawaddy yang dapat menyebabkan ribuan orang melarikan diri ke Thailand demi keselamatan dan mengganggu perdagangan perbatasan.

Menteri Luar Negeri Thailand Parnpree Bahiddha-Nukara mendesak militer Myanmar tidak menanggapi dengan kekerasan atas hilangnya kota perdagangan yang dikuasai gerilyawan. Serangan balasan bisa menyebabkan banyak korban masyarakat sipil. 

Menteri Luar Negeri Parnpree mengatakan Thailand telah berbicara dengan militer Myanmar bahwa Thailand tidak ingin melihat kekerasan.

“Kami ingin melihat perdamaian di Myawaddy, bukan hanya karena perdagangannya, tapi karena tetangga kami. Kami tidak ingin terjadi kekerasan apa pun. Kalau bisa dibicarakan, di antara kelompok mereka, kami akan sangat menyambut baik hal itu. Kami siap menjadi mediator,” kata Menlu Thailand.

Thailand menyiagakan pasukan militer di perbatasan Myanmar agar aksi kekerasan tak masuk ke wilayah Thailand.

Share: