Duterte menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan; jaksa menuduhnya terlibat dalam setidaknya 76 kasus pembunuhan antara tahun 2013 dan 2018 selama operasi penindakannya terhadap pengguna dan pengedar narkoba.
Den Hag, Suarathailand- Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte hadir secara langsung di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk pertama kalinya pada hari Rabu, saat ia menghadapi dakwaan terkait "perang melawan narkoba" yang menewaskan ribuan orang.
Pria berusia 81 tahun itu sebelumnya hadir melalui sambungan video saat pertama kali dihadapkan ke pengadilan di Den Haag, namun sempat absen dalam beberapa sidang karena tim pembelanya menyatakan ia terlalu sakit.
Mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih tanpa dasi, mantan presiden itu duduk dengan dagu bertumpu pada tangannya saat persidangan dimulai.
Hakim Joanna Korner mencatat kehadirannya di pengadilan untuk pertama kalinya dan menyatakan bahwa ia dapat meninggalkan ruang sidang kapan saja tanpa perlu meminta izin dari majelis hakim.
Duterte menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan; jaksa menuduhnya terlibat dalam setidaknya 76 kasus pembunuhan antara tahun 2013 dan 2018 selama operasi penindakannya terhadap pengguna dan pengedar narkoba.
Ia adalah mantan kepala negara Asia pertama yang diadili di ICC, lembaga yang mengadili individu atas kejahatan terberat di dunia seperti kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hakim Korner telah menetapkan tanggal 30 November sebagai awal persidangan, yang diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Sidang hari Rabu tersebut merupakan "sidang status" bagi para pihak dan hakim untuk menetapkan rincian teknis pelaksanaan sidang.
Satu-satunya momen Duterte terlihat sejak penangkapannya pada Maret 2025 adalah saat penampilan awal melalui video; kala itu, ia tampak bingung dan kelelahan, serta suaranya nyaris tak terdengar.
Tim pembelanya berargumen bahwa ia tidak dalam kondisi mental yang layak untuk mengikuti persidangan dan kondisinya terus memburuk.
Keluarga Merasa Lega
Kerabat dari beberapa korban kampanye anti-narkoba menyambut baik kehadiran Duterte di pengadilan.
Randy Delos Santos (48 tahun), paman dari Kian Delos Santos—seorang remaja yang tewas di tangan polisi pada Agustus 2017 saat Duterte menjabat sebagai presiden—mengatakan kepada AFP: "Tentu saja, kami sangat senang karena kini ia bisa hadir secara langsung.
"Melihat kondisinya yang sehat secara fisik, kami yakin ini bisa menjadi awal dari proses yang pada akhirnya akan memberikan keadilan yang selama ini kami nantikan bagi kami, para korban." "Kami berharap kondisi fisiknya yang bugar akan membantu mempercepat jalannya persidangan," ujar Santos kepada AFP di Manila.
Dalam dokumen yang dirilis pada hari Selasa, tim pengacara Duterte menyatakan bahwa ia menderita "gangguan daya ingat yang signifikan, yang menghambat kemampuannya untuk menyimpan informasi terkini dan mengakses ingatan secara akurat."
Majelis hakim sedang mempertimbangkan apakah ia secara mental layak untuk diadili dan telah memerintahkan pemeriksaan medis oleh tiga orang ahli.
Hasil pemeriksaan tersebut belum dipublikasikan, namun pihak pembela Duterte telah mengutip temuan yang tercantum dalam laporan itu.
Menurut pihak pembela, pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa Duterte mengira dirinya masih hidup di tahun 2007 atau 2008, merasa berusia 84 atau 85 tahun, serta tidak dapat mengingat nama presiden Amerika Serikat yang menjabat saat ini.
Diduga Membunuh Ribuan Orang
Dalam persidangan bulan Februari, pihak penuntut mendakwa Duterte telah membunuh ribuan orang yang diduga sebagai pengedar dan pengguna narkoba, baik saat menjabat sebagai wali kota Davao maupun saat menjadi presiden.
"Selama berpuluh-puluh tahun ia membunuh rakyatnya sendiri, membunuh anak-anak Filipina, namun ia berdalih bahwa semua itu dilakukannya demi negara. Ia tidak menyangkal perbuatannya," ujar Julian Nicholls saat menyampaikan argumen penutup pihak penuntut usai persidangan.
"Ia menjalankan regu pembunuh di Davao yang dibentuknya sendiri," kata Nicholls, merujuk pada kota tempat Duterte menjabat sebagai wali kota sebelum menjadi presiden.
"Ia berjanji akan membunuh ribuan orang, dan ia benar-benar melakukannya."
Jumlah korban jiwa yang sebenarnya selama operasi penindakannya di Filipina diperkirakan mencapai ribuan orang, dan pengacara para korban berpendapat bahwa persidangan penuh dapat mendorong lebih banyak keluarga korban untuk tampil melapor.
Nicolas Kaufman, pengacara Duterte saat itu, menyampaikan kepada pengadilan pada bulan Februari bahwa kliennya "sama sekali" tidak mengakui kesalahan atas tuduhan tersebut.
Kaufman mengatakan kepada hakim ICC bahwa bukti-bukti yang memberatkan Duterte "sama sekali tidak memadai" dan dakwaan tersebut "sangat keliru serta bermotif politik."
Ia berargumen bahwa meskipun Duterte kerap menggunakan "gaya bicara yang keras dan hiperbolis" dalam pidato-pidatonya, ia juga sering memerintahkan aparat untuk hanya menembak demi membela diri.
Duterte tetap memiliki popularitas tinggi di Filipina, di mana banyak pihak mendukung pendekatan kerasnya dalam menangani kejahatan.




