Iran meminta Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk “membuktikan klaim pembersihan ranjau di Hormuz dengan bukti independen, bukan sekadar pernyataan”.
Teheran, Suarathailand- Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan bahwa 11 kapal tanker minyak yang melanggar aturan navigasi telah terbakar di Selat Hormuz sejak akhir Oktober, dan beberapa di antaranya kemudian tenggelam.
Pernyataan Angkatan Laut IRGC menyebutkan bahwa insiden-insiden tersebut terjadi dalam rentang waktu sembilan hari setelah kunjungan singkat komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, ke jalur perairan strategis tersebut.
Iran membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagai respons terhadap perang AS-Israel, yang dimulai pada akhir Februari dan berakhir pada awal April setelah berlangsung selama 40 hari.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, baru-baru ini menantang klaim militer AS yang menyatakan telah sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut.
Pada hari Kamis, Mohebbi meminta Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk “membuktikan klaim pembersihan ranjau di Hormuz dengan bukti independen, bukan sekadar pernyataan”.
“Realitas di Selat Hormuz terjadi di langit, daratan, dan laut—bukan di dunia maya ataupun di ruang kendali media Amerika,” tegasnya.
Data maritim juga menunjukkan bahwa para pelaut kini enggan memasuki Selat Hormuz di bawah pengawalan Washington; hal ini bertolak belakang dengan klaim Amerika Serikat yang menyatakan bahwa jalur perairan strategis tersebut telah bersih dari ranjau.
Data dari platform pelacakan dan intelijen maritim Live AIS menunjukkan bahwa para pelaut serta kapten kapal telah memutuskan untuk meninggalkan wilayah tersebut.



