Jubir Baqaei merujuk pada video yang beredar belakangan ini yang memperlihatkan pencemaran minyak di sepanjang pesisir Pulau Qeshm.
Teheran, Suarathailand- Melalui unggahan di platform X pada hari Kamis, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyoroti kekhawatiran terkait lingkungan di Teluk Persia, seraya menyatakan bahwa kondisi Selat Hormuz dan wilayah perairan di sekitarnya tidak boleh diabaikan.
Teheran memperingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kehadiran dan operasi militer Washington di Teluk Persia harus ditangani dalam setiap pengaturan masa depan yang mengatur Selat Hormuz.
Baqaei merujuk pada video yang beredar belakangan ini yang memperlihatkan pencemaran minyak di sepanjang pesisir Pulau Qeshm. Ia menambahkan bahwa pencemaran tersebut terbawa arus dari Teluk Persia menuju garis pantai, dan bukti awal mengindikasikan bahwa sebuah kapal pengangkut curah (bulk carrier) asing bertanggung jawab atas tumpahan minyak itu.
Pencemaran telah tercatat di tiga lokasi pesisir dan di beberapa bagian permukaan laut.
Baqaei menggambarkan insiden ini sebagai salah satu wujud nyata dari kerusakan lingkungan luas yang telah berdampak pada Teluk Persia dan Laut Oman selama beberapa dekade terakhir.
Bentuk pencemaran—baik yang terlihat maupun yang tersembunyi—telah merusak ekosistem laut dan menimbulkan kerugian bernilai triliunan dolar bagi wilayah pesisir Iran.
Baqaei lebih lanjut mempertanyakan pihak mana yang bertanggung jawab untuk memulihkan kerusakan lingkungan tersebut.
Ia mempertanyakan apakah tanggung jawab itu terletak pada negara-negara konsumen ekspor energi murah dari kawasan tersebut, perusahaan asuransi pelayaran, atau pihak agresor beserta mitranya yang telah mengubah Teluk Persia dan Laut Oman menjadi ajang operasi militer dan uji coba senjata yang sangat destruktif.
Baqaei menyatakan bahwa Iran, sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di sepanjang Teluk Persia dan Laut Oman, tidak bisa tinggal diam terhadap tantangan lingkungan yang dihadapi kawasan tersebut.
"Setiap pihak yang memperoleh keuntungan dari pelayaran komersial melalui Selat Hormuz memikul kewajiban hukum maupun moral untuk memulihkan kerusakan lingkungan yang terjadi di Teluk Persia dan Laut Oman," tambahnya.
Iran sempat menyatakan penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan energi global—sebagai tanggapan atas serangan tanpa provokasi oleh AS dan Israel yang menargetkan negara tersebut antara tanggal 28 Februari hingga 7 April.
AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni untuk mengakhiri siklus ketegangan yang diakibatkan oleh serangan tersebut.
Republik Islam kemudian membuka kembali jalur tersebut, namun terpaksa memberlakukan kembali penutupan setelah Washington mulai mencampuri mekanisme transit sah yang telah dirancang Teheran untuk pelintasan melalui titik sempit (chokepoint) tersebut, sesuai dengan kesepakatan yang ada. (Foto: Dok kapal di Teluk Persia)




