"Hari ini dunia telah menyadari bahwa narasi 'ancaman nuklir' hanyalah kebohongan yang disebarkan oleh rezim Zionis," kata Aref, seraya menambahkan bahwa argumen tersebut telah kehilangan kredibilitasnya.
Teheran, Suarathailand- Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan Iran telah menggagalkan berbagai konspirasi militer, ekonomi, sosial, dan politik yang bertujuan memaksa negara itu menyerah atau menggulingkan pemerintahannya, dan kini tengah bersiap menghadapi fase baru perang ekonomi.
Aref menyebut Tehran telah berulang kali mematahkan upaya "sistem dominasi"—yang dipimpin oleh Amerika Serikat—untuk menjatuhkan Iran.
Aref menambahkan strategi Iran dalam beberapa dekade terakhir didasarkan pada pemanfaatan teknologi canggih untuk memenuhi kebutuhan negara serta masyarakat di kawasan tersebut.
"Hari ini dunia telah menyadari bahwa narasi 'ancaman nuklir' hanyalah kebohongan yang disebarkan oleh rezim Zionis," kata Aref, seraya menambahkan bahwa argumen tersebut telah kehilangan kredibilitasnya.
Setelah upaya-upaya sebelumnya gagal, kata Aref, pihak musuh beralih ke konfrontasi militer langsung dengan Iran, dengan keyakinan bahwa rakyat Iran akan turun ke jalan untuk mendukung mereka.
"Namun, rakyat sekali lagi membuktikan bahwa perhitungan Barat itu keliru," lanjutnya. "Mereka melawan musuh, dan pada akhirnya musuh terpaksa meminta gencatan senjata."
Aref mengatakan tujuan menggulingkan Republik Islam tersebut tetap tidak berubah, dan musuh berupaya mereplikasi kudeta tahun 1953 terhadap pemerintah Iran melalui operasi politik-militer.
Ia menambahkan bahwa kerusuhan pada akhir tahun 2025 dan awal 2026 telah menimbulkan dampak yang sangat berat bagi negara, dengan lebih dari 3.000 pemuda dari kedua belah pihak tewas—baik mereka yang turun ke jalan untuk membela Republik Islam maupun mereka yang, tanpa disadari, bertindak demi kepentingan sistem dominasi tersebut.
"Bagi sistem yang tidak memiliki dukungan rakyat, peristiwa semacam itu sangatlah melumpuhkan," catat Aref.
Ia menyatakan bahwa keputusan pemerintah untuk menggelar upacara penghormatan bagi semua korban tewas, mengakui hampir seluruhnya sebagai syuhada, serta memublikasikan daftar korban, turut berperan dalam menggagalkan konspirasi tersebut.
Aref juga menyoroti respons negara pasca-gugurnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, pada hari pertama perang Ramadan tanggal 28 Februari; ia menggambarkan peristiwa itu sebagai pukulan terbesar bagi sistem tersebut serta kehilangan besar bagi umat Muslim dan masyarakat pencari kebebasan di seluruh dunia. Namun, ujarnya, masyarakat Iran sekali lagi menunjukkan "kapasitas luar biasa" mereka.
"Berkat berkah darah para syuhada, 'front jalanan' terbentuk secara spontan," lanjut Aref, seraya menambahkan bahwa masyarakat telah turun ke jalan untuk mendukung sistem dan negara selama sekitar 190 malam.
Ia mengatakan pihak musuh meyakini bahwa, seperti pada kudeta tahun 1953, mereka dapat mencapai tujuannya dengan mengandalkan "sejumlah preman kelas teri," namun perhitungan itu terbukti keliru; sebaliknya, modal sosial Iran justru bergerak mendukung sistem tersebut.
Setelah strategi militer gagal, kata Aref, musuh kini memusatkan perhatian pada front ekonomi dan sosial.
"Kami mengakui bahwa kami sedang menghadapi masalah ekonomi," ujarnya, seraya menambahkan, "Namun, kami telah bertahan menghadapi sanksi yang tidak adil serta terus memajukan penguatan ekonomi dan ekonomi perlawanan."
Aref mengakui bahwa pemerintah belum berhasil mengendalikan inflasi dan kenaikan harga, namun ia tetap yakin bahwa berbagai kesulitan tersebut dapat diatasi melalui kerja sama masyarakat.
Ia memberikan penekanan khusus pada perlindungan modal sosial Iran, seraya menyebutkan bahwa musuh menargetkan hal tersebut bersamaan dengan front ekonomi.
"Menjaga modal sosial adalah suatu keharusan dan, dalam artian tertentu, merupakan 'jihad akbar'," ujarnya.
Aref menambahkan bahwa pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian telah menghadapi kondisi layaknya masa perang sejak mulai menjabat, namun tidak mengabaikan kesejahteraan hidup masyarakat.
Aref mengatakan Iran kini telah memasuki perang ekonomi di mana pihak lawan meyakini bahwa sanksi dan blokade dapat melumpuhkan Republik Islam tersebut.
"Kami meyakini bahwa kami telah memasuki perang ekonomi," lanjutnya, seraya menambahkan, "Asumsi musuh adalah bahwa melalui sanksi dan blokade, mereka dapat mengakhiri eksistensi Republik Islam Iran dan melumpuhkan sistemnya. Namun, kami memiliki jalur maritim, darat, dan kereta api baru yang memadai, sehingga kami tidak khawatir."
Pemerintah, ujarnya, memiliki program untuk menerapkan ekonomi perlawanan dan memperkuat ketahanan ekonomi negara.
"Kami yakin bahwa musuh juga akan kalah di front ini," tambah Aref, karena mereka tidak memiliki instrumen lain selain sanksi keras dan tidak adil yang sebelumnya telah mereka gunakan terhadap Iran.
Aref menegaskan bahwa kapasitas ekonomi negara juga telah terbukti selama dua konflik bersenjata yang terjadi baru-baru ini. Menurutnya, sektor swasta dan jaringan ritel Iran telah mendahulukan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi serta memberikan dukungan kepada pemerintah dan negara.
"Toko-toko penuh dengan barang," ujarnya, seraya menambahkan bahwa masyarakat juga telah bekerja sama dengan pemerintah dengan cara membatasi jumlah pembelian mereka.
Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan gelombang sanksi baru terhadap Iran dalam apa yang disebut sebagai "Operasi Pengucilan Ekonomi" (Operation Economic Outcast).



