Trump Puji Warga yang Lumpuhkan Pelaku Penembakan di Sekolah SD AS

Pelaku yang berusia 16 tahun itu menewaskan tiga anak dan seorang guru pada hari Kamis di Sekolah Dasar Silver Rail di kota Bend. Seorang anak lainnya dan seorang guru mengalami luka kritis.


Oregon, Suarathailand- Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat memuji seorang warga bersenjata yang menembak mati seorang remaja pelaku penembakan di sebuah sekolah dasar di Oregon sebagai "pahlawan besar", seraya mengatakan bahwa situasi tersebut bisa saja menjadi "jauh lebih buruk".

Pelaku yang berusia 16 tahun itu menewaskan tiga anak dan seorang guru pada hari Kamis di Sekolah Dasar Silver Rail di kota Bend. Seorang anak lainnya dan seorang guru mengalami luka kritis.

"Meskipun kejadian ini sangat buruk, ada seorang pahlawan besar yang turun tangan dan menuntaskan situasinya," ujar Trump kepada para wartawan, seraya menambahkan: "Ini adalah peristiwa yang mengerikan, tetapi syukurlah ada seseorang yang membawa senjata dan tahu cara menggunakannya."

Pihak kepolisian menyatakan bahwa warga tersebut mengejar pelaku hingga ke dalam sekolah dan menembak mati pelaku sebelum aparat kepolisian tiba di lokasi.

Komentar Trump senada dengan pernyataan sebelumnya dari National Rifle Association (NRA), sebuah kelompok pelobi yang memiliki pengaruh besar.

"Tindakan kekerasan yang mengerikan di Oregon kemarin menjadi pengingat lain akan pentingnya warga negara yang taat hukum dan memiliki senjata," tulis NRA dalam sebuah unggahan di platform X.

Tindakan warga tersebut "menunjukkan kepahlawanan masyarakat biasa yang siap dan sigap merespons ketika nyawa orang-orang tak berdosa terancam," tambah mereka.

Peristiwa penembakan ini kembali memicu perdebatan mengenai kekerasan senjata api di Amerika Serikat, negara di mana senjata api tersedia secara luas dan tingkat kematian akibat senjata api termasuk yang tertinggi di antara negara-negara maju.

"Krisis kekerasan senjata api di Amerika telah merenggut nyawa anak-anak kita. Sudah cukup!" tegas kelompok pengendalian senjata api GIFFORDS—yang didirikan bersama oleh mantan anggota Kongres Gabby Giffords, seorang penyintas penembakan yang nyaris merenggut nyawanya—melalui platform X.

Menurut Gun Violence Archive, lebih dari 360 insiden penembakan massal telah tercatat di seluruh Amerika Serikat tahun ini. Organisasi tersebut mendefinisikan penembakan massal sebagai insiden yang mengakibatkan setidaknya empat orang tertembak, tidak termasuk pelaku.

Berbagai jajak pendapat menunjukkan adanya dukungan luas dari masyarakat untuk memperketat aturan pembelian senjata api, namun NRA menentang pembatasan lebih lanjut, dan para pembuat kebijakan berulang kali gagal mengambil tindakan. Penembakan di sekolah yang paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat terjadi di Virginia Tech pada 16 April 2007, ketika seorang mahasiswa asal Korea Selatan bernama Seung-Hui Cho menewaskan 32 orang dan melukai 17 orang lainnya, sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.

Share: