Trump Isyaratkan Perang Lawan Iran Hampir Berakhir, Selat Hormuz Belum Aman

Ratusan kapal tanker dan sekitar 20.000 pelaut telah terjebak di Teluk sejak konflik dimulai.


AS, Suarathailand- Upaya diplomatik baru meningkatkan harapan akan jeda dalam konflik Iran, bahkan ketika gangguan di Selat Hormuz terus mengguncang pasar energi global

Presiden AS Donald Trump telah memberi sinyal bahwa perang melawan Iran yang dilancarkan bersama Israel, mungkin akan segera berakhir, seiring dengan intensifikasi upaya diplomatik dan Pakistan kembali bergerak untuk mempersempit kesenjangan antara kedua pihak. 

Namun terlepas dari nada yang lebih penuh harapan, krisis tetap belum terselesaikan, dengan pengiriman melalui Selat Hormuz masih sangat terganggu dan pasar energi global berada di bawah tekanan.

Upaya diplomasi terbaru ini terjadi ketika Kepala Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, tiba di Teheran dalam upaya untuk membantu mengurangi ketegangan dan menghidupkan kembali negosiasi setelah putaran pembicaraan baru-baru ini berakhir tanpa kesepakatan. 

Gedung Putih mengatakan diskusi tentang kemungkinan putaran kedua tetap aktif dan positif, dengan Pakistan masih menjadi pusat upaya mediasi.

Trump mengatakan kepada media AS bahwa beberapa hari ke depan dapat membawa kemajuan yang lebih jelas dan mengatakan dia percaya kedua pihak menginginkan kesepakatan dengan cepat. 

Sentimen pasar mencerminkan optimisme tersebut, dengan investor merespons positif setelah ia mengatakan perang "hampir berakhir".


Pakistan kembali berperan sebagai mediator

Pakistan telah muncul kembali sebagai perantara penting dalam upaya untuk menahan konflik. Asim Munir telah tiba di Teheran dengan tujuan membantu menjembatani perbedaan setelah memainkan peran penting dalam pembicaraan sebelumnya. Turki juga mengatakan sedang berupaya membantu memperpanjang gencatan senjata dan menjaga diplomasi tetap hidup.


Sengketa nuklir masih menghambat kesepakatan

Meskipun demikian, negosiasi tetap buntu pada isu-isu inti seputar program nuklir Iran. 

Amerika Serikat telah mengusulkan penangguhan aktivitas nuklir yang jauh lebih lama, sementara Iran menawarkan jangka waktu yang jauh lebih singkat. 

Poin-poin yang masih menjadi kendala termasuk tuntutan Washington agar material nuklir dikeluarkan dari Iran dan desakan Teheran agar sanksi internasional harus dicabut.


Hormuz tetap berada di bawah tekanan berat

Tekanan militer dan ekonomi belum mereda. Blokade AS terhadap perdagangan maritim Iran sangat mengganggu pengiriman barang dalam 48 jam pertama, sementara Selat Hormuz tetap menjadi pusat negosiasi karena dilalui oleh sekitar seperlima aliran minyak dan LNG global. 

Ratusan kapal tanker dan sekitar 20.000 pelaut telah terjebak di Teluk sejak konflik dimulai.

Iran telah mengajukan proposal yang memungkinkan kapal untuk meninggalkan selat melalui sisi Oman tanpa serangan, tetapi hal itu masih bergantung pada kesepakatan yang lebih luas dengan Amerika Serikat. 

Masih belum ada kejelasan tentang seberapa cepat lalu lintas normal dapat dilanjutkan, atau apakah semua kelas kapal akan dilindungi.


Dampak global tetap parah

Dampak ekonomi perang terus terasa di seluruh dunia. Harga minyak telah meningkat, rute pengiriman menjadi kacau, dan pemerintah di luar kawasan tersebut berupaya untuk mengamankan alternatif energi sambil menyerukan agar gencatan senjata tetap berlaku.

Di luar dampak ekonomi, perang juga telah menimbulkan kerugian kemanusiaan yang besar. Sekitar 5.000 orang telah tewas, sebagian besar di Iran dan Lebanon, yang menggarisbawahi parahnya krisis tersebut bahkan ketika upaya untuk mengamankan jeda yang berkelanjutan terus dilakukan.

Share: