Toleransi Antarumat Beragama Mengakar Kuat di Thailand Selatan

Dari sejak nenek moyang kami sudah berbaur, meski beda agama, tidak ada masalah bagi kami, kami hidup rukun dan  sudah seperti keluarga sendiri.


Akar toleransi antar-umat beragama sudah menancap kuat dan lama di wilayah Thailand Selatan. Suasana kekeluargaan, hidup rukun berdampingan, dan saling bergotong royong antar-umat beragama jadi hal biasa di Thailand selatan.

Penduduk di tiga provinsi di Thailand selatan yakni di Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat, 80 persen penduduknya adalah muslim. Sisanya beragama Budha dan kristen. Meski begitu, toleransi antara pemeluk agama di tiga daerah tersebut sangat tinggi.

Toleransi di tiga provinsi ini tidak hanya diwujudkan dalam kehidupan keseharian, bahkan dalam asepk wirausaha pun sikap toleransi dan kebersamaan dijunjung tinggi. Contohnya kekompakan antar-umat beragama di pusat kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Si Ma Ya di Provinsi Yala.

Sikap toleransi antar pemeluk agama juga dirasakan di Pasar Klong Srai Hai. Pasar yang berada persis di tepi jalan utama menuju Provinsi Yala. Pasar ini banyak diisi para pedagang dari kedua pemeluk agama terbesar di negara tersebut. Mereka menjual berbagai kebutuhan sehari-hari seperti sayur mayur, buah-buahan, hasil laut, dan sebagainya.

Pasar Klong Srai Hai memiliki 48 kios yang dibagi dua untuk para pedagang muslim dan penganut agama Budha.

"Dari nenek moyang memang sudah berbaur jadi tidak ada masalah sudah seperti keluarga sendiri," ujar Caran (48), Kepala Pasar Klong Srai Hai. Setiap harinya, pasar ini buka setengah hari mulai dari 13.00-18.00 WIB. Untuk bisa berdagang di pasar tersebut, calon pedagang harus melapor ke kepala pasar.

Di pusat kerajinan tangan ibu-ibu rumah tangga Si Ma Ya, beberapa ibu-ibu dari beragam latar belakang agama, baik Budha, Islam dan Kristen bahu membahu mengolah tanah dari Gunung Kampan untuk dijadikan bahan dasar pewarna kaos, slayer, kain sebagai souvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.

"Kalau ada event, festival budaya antara pemeluk Budha dan Islam saling membantu dan tukar menukar budaya," kata Ketua Pusat Kerajinan Tangan Si Ma Ya yakni, Nouwarat Noypong.

Budaya kebersamaan telah dibangun sejak lama ini membuat mereka hidup rukun. Apalagi, sejak pusat kerajinan tangan ini bangun pada 2007, keharmonisan antara sesama pemeluk agama di daerah tersebut semakin erat. Mereka bersama-sama memproduksi souvenir baju, kain, topi, dan tas.  

Berkat kerja keras dan kekompakan di antara mereka, sudah banyak penghargaan yang diperoleh. Bahkan, Pemerintah Thailand selalu melibatkan dan mengundang mereka setiap kali menggelar event pameran.

"Setelah ada kelompok Si Ma Ya ini, pemerintah dan sejumlah organisasi melihat ini ada peluang ekonomi dan akhirnya mensupport kegiatan kami. Kalau ada event, kami dikirim. Hasil karya mereka juga diorder dari luar kota," kata Nouwarat Noypong.

Share: