>Tuntutan Thailand ini menyusul serangan granat oleh pasukan Kamboja di provinsi Si Sa Ket, yang dikecam Bangkok sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata baru-baru ini.
>Bangkok menuduh Kamboja melakukan "pola berulang" provokasi, termasuk pembangunan pasar dan fasilitas lain tanpa izin di wilayah yang diklaim sebagai wilayah Thailand, yang melanggar perjanjian tahun 2000.
>Karena situasi keamanan, Thailand telah menangguhkan kegiatan survei dan demarkasi perbatasan bersama, dengan menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak dapat dilanjutkan sampai Kamboja memberikan langkah-langkah yang dapat diverifikasi untuk memastikan keamanan.
Bangkok, Suarathailand- Thailand menyerukan ketulusan dari Kamboja menyusul serangan granat di Si Sa Ket, dengan menegaskan bahwa survei perbatasan tidak dapat dilanjutkan sampai keamanan terjamin.
Kementerian Luar Negeri Thailand mengeluarkan teguran keras kepada Phnom Penh pada hari Rabu, menyerukan ketulusan sejati dan kerja sama yang dapat diverifikasi dalam menyelesaikan sengketa perbatasan darat yang telah berlangsung lama antara kedua negara.
Pernyataan ini menyusul pelanggaran keamanan serius pada 24 Februari 2026, di mana pasukan Kamboja dilaporkan menembakkan granat 40 mm ke wilayah Thailand di dekat daerah Phlan Hin Paet Kon di Distrik Kantharalak, Provinsi Si Sa Ket.
Bangkok mengutuk tindakan tersebut sebagai "pelanggaran nyata" terhadap Pernyataan Bersama yang ditandatangani pada 27 Desember 2025, yang mewajibkan gencatan senjata segera dan penghentian semua tindakan provokatif.
Langkah-Langkah Pertahanan dan Kedaulatan
Mengkarakterisasi insiden tersebut sebagai bagian dari "pola berulang dari perilaku provokatif yang disengaja," Kementerian menyatakan bahwa Thailand terpaksa menerapkan langkah-langkah stabilisasi sementara.
Para pejabat menekankan bahwa tindakan ini murni bersifat defensif dan dimaksudkan untuk meminimalkan risiko korban jiwa di masa mendatang, tanpa mengurangi proses penetapan batas wilayah yang sedang berlangsung.
Kementerian juga menyoroti serangkaian keluhan historis terkait Nota Kesepahaman tentang Survei dan Penetapan Batas Tanah (MOU 2000). Menurut pernyataan tersebut, Kamboja secara konsisten gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan Pasal V perjanjian tersebut.
Contoh spesifik pelanggaran yang disebutkan oleh Bangkok meliputi:
Pembangunan pasar komunitas dan Monumen Berkuda Ta Om di sisi Thailand dari daerah aliran sungai di titik masuk An Mah-An Ses.
Pembangunan fasilitas administrasi tanpa izin di dalam wilayah kedaulatan Thailand di Distrik Ta Phraya, Provinsi Sa Kaeo.
Kesabaran vs. Realita
Pemerintah Thailand mencatat bahwa mereka telah menunjukkan "kesabaran yang maksimal" sejak tahun 2010, mengajukan beberapa protes formal yang diduga diabaikan oleh pihak Kamboja. Kementerian berpendapat bahwa kurangnya kepatuhan ini sangat kontras dengan retorika publik Phnom Penh mengenai penyelesaian sengketa secara damai.
Meskipun Thailand tetap berkomitmen pada MOU 2000 sebagai "satu-satunya kerangka kerja" untuk survei batas tanah, Kementerian mengklarifikasi bahwa kegiatan teknis di lapangan saat ini tidak dapat dilakukan.
Langkah Selanjutnya
Thailand telah mengakui usulan Kamboja untuk mengadakan pertemuan Komisi Perbatasan Bersama (JBC). Namun, tanggapan resmi baru akan diberikan setelah pembentukan Kabinet Thailand yang baru.
Untuk saat ini, Bangkok menyerukan kepada Phnom Penh untuk melangkah lebih jauh dari sekadar "jaminan lisan" dan menerapkan langkah-langkah yang dapat diverifikasi untuk memulihkan stabilitas dan memastikan keselamatan semua personel perbatasan.



