Trump menolak permintaan tersebut untuk mempertahankan fokus strategis AS pada Iran dan Selat Hormuz, serta menghindari pembukaan medan konflik baru.
AS, Suarathailand- Situs berita Axios pada Kamis melaporkan Amerika Serikat menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan militer langsung terhadap pemberontak Houthi di Yaman setelah kelompok tersebut merebut kota pelabuhan strategis Mokha.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan menghubungi Presiden AS Donald Trump dua kali dalam waktu berdekatan pada Kamis untuk meminta dukungan operasi udara Amerika ketika kelompok pemberontak tersebut bergerak menuju Selat Bab al-Mandeb.
Pemimpin Saudi tersebut menyampaikan kemunduran pasukan Yaman yang menjadi sekutu Riyadh, sebelum beberapa jam kemudian secara resmi meminta intervensi militer langsung.
Presiden Trump menolak permintaan tersebut untuk mempertahankan fokus strategis AS pada Iran dan Selat Hormuz, serta menghindari pembukaan medan konflik baru.
Gedung Putih hanya menyetujui pemberian bantuan nonkinetik dengan mengizinkan transfer informasi intelijen dan data penargetan yang dapat digunakan untuk membantu pasukan Saudi.
Berbagi informasi tersebut melengkapi sekitar 200 personel militer AS yang ditempatkan di Arab Saudi untuk menjalankan tugas penasihat dan penghubung.
Washington juga mengirim Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, ke Arab Saudi pada Kamis untuk melakukan konsultasi dengan pejabat senior pertahanan Saudi.
Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Riyadh dan kelompok Houthi.



