Thailand Ungkap Jaringan Penipuan Online Terbesar, 52 Warga China Ditangkap

Para korban ditipu untuk berinvestasi dalam mata uang kripto, perjudian online, dan belanja online, dengan total kerugian diperkirakan mencapai 100 juta baht (sekitar Rp43 Miliar).


> Sebanyak 71 tersangka – 52 di antaranya warga negara Tiongkok dan 19 warga Thailand.

> Polisi sita 223 komputer, 1.001 ponsel pintar, 14 tablet iPad, 298 kartu SIM


Departemen Investigasi Khusus (DSI) menangkap tersangka geng pusat panggilan yang beroperasi dari provinsi Nakhon Si Thammarat yang diduga memangsa korban di Thailand, Tiongkok, dan Rusia, kata penjabat direktur jenderal DSI Mayor Pol Yutthana Praedam pada hari Jumat.

Sebanyak 71 tersangka – 52 di antaranya warga negara Tiongkok dan 19 warga Thailand – ditangkap pada hari Kamis ketika petugas DSI menggerebek tiga lokasi di provinsi selatan, kata Yutthana.

Sejumlah besar peralatan dan barang yang digunakan tersangka penipu juga disita. Ini termasuk 223 komputer, 1.001 ponsel pintar, 14 tablet iPad, 298 kartu SIM, dan 86 buku bank, menurut kepala DSI.

Dia berbicara pada konferensi pers yang diadakan di Kantor Polisi Distrik Chawang di Nakhon Si Thammarat. Turut hadir dalam konferensi pers tersebut adalah Kapten Pol Khemchat Prakaihongmanee, direktur Divisi Kasus Teknologi Informasi DSI, dan perwakilan dari Komisi Penyiaran dan Telekomunikasi Nasional (NBTC) dan Komisi Perlindungan Data Pribadi.

Menurut siaran pers DSI, Khemchat memimpin penggerebekan pada hari Kamis bersama dengan petugas dari Biro Imigrasi dan pejabat dari NBTC dan Departemen Ketenagakerjaan.

Fokus utama operasi ini adalah sebuah hotel di distrik Chawang, di mana puluhan warga negara Tiongkok dan Thailand ditemukan bekerja untuk geng pusat panggilan tersebut.

Beberapa pekerja mengatakan kepada petugas yang menangkap bahwa mereka ditipu dari Tiongkok dan dipaksa bekerja untuk geng tersebut.

Sumber yang mengetahui hal tersebut sebelumnya mengatakan, selain di hotel, penggerebekan terpisah juga dilakukan di sebuah rumah mewah yang berjarak sekitar 3 km dan ruko di dekatnya.

Sekitar dua lusin warga negara Tiongkok ditemukan di rumah yang telah diubah menjadi kantor, dan masih banyak lagi yang berada di ruko ketika digerebek.

Geng pusat panggilan tersebut berada di bawah radar polisi pada bulan November tahun lalu menyusul banyaknya pengaduan, menurut sumber tersebut.

Diketahui bahwa para korban ditipu untuk berinvestasi dalam mata uang kripto, perjudian online, dan belanja online, dengan total kerugian diperkirakan mencapai 100 juta baht (sekitar Rp43 Miliar).

Orang-orang yang bekerja untuk geng pusat panggilan tersebut ditemukan mengobrol dengan calon korbannya dalam bahasa China, Rusia, dan Thailand, menurut DSI. Ditemukan juga bahwa paspor banyak warga negara Tiongkok yang ditangkap menunjukkan catatan seringnya mereka bepergian ke Kamboja.

Warga negara Tiongkok yang ditangkap pada awalnya didakwa melanggar undang-undang imigrasi, melakukan pekerjaan yang dilarang bagi orang asing, dan kejahatan teknologi.

Share: