Thailand dan Singapura membahas guncangan energi, Jaringan Listrik ASEAN, dan kerja sama pembiayaan AI pada Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia di Washington
Thailand dan Singapura menggunakan sela-sela Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia di Washington untuk mempertajam pesan bersama tentang krisis energi: ini bukan lagi masalah yang dapat ditangani oleh satu negara saja.
Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas mengadakan pembicaraan bilateral dengan Indranee Rajah dari Singapura, yang jabatan resminya adalah Menteri di Kantor Perdana Menteri, Menteri Keuangan Kedua, dan Menteri Pembangunan Nasional Kedua, untuk bertukar pandangan tentang ekonomi global dan meningkatnya risiko akibat guncangan energi.
Inti dari diskusi tersebut adalah risiko sistemik yang ditimbulkan oleh konflik di Timur Tengah, khususnya ancaman terhadap pengiriman energi yang melewati Selat Hormuz, salah satu jalur minyak paling penting di dunia.
Kedua belah pihak sepakat bahwa volatilitas dalam skala ini tidak dapat diatasi hanya dengan kebijakan domestik dan sebaliknya membutuhkan kerangka kerja regional yang lebih kuat untuk manajemen risiko.
Thailand dan Singapura juga bertukar pandangan tentang bagaimana mengurangi dampak harga energi yang terus tinggi, yang berdampak pada inflasi, biaya produksi, dan daya beli rumah tangga.
Diskusi tersebut berfokus pada penggunaan instrumen fiskal dan moneter secara bersamaan untuk menjaga stabilitas ekonomi tanpa memberikan tekanan berlebihan pada keuangan publik.
Ekniti telah menekankan disiplin fiskal bahkan ketika Thailand mempertimbangkan bagaimana menanggapi krisis yang tumpang tindih dan transisi dari ketergantungan minyak.
Poin strategis yang lebih luas juga muncul dari pembicaraan tersebut. Dengan Singapura yang akan memimpin ASEAN pada tahun 2027 dan Thailand yang akan mengambil alih pada tahun 2028, kedua pihak melihat peluang untuk membangun agenda ekonomi multi-tahun yang lebih berkelanjutan daripada bergantung pada siklus kebijakan satu tahun.
Kepemimpinan Singapura yang akan datang telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negerinya dan oleh laporan diplomatik Thailand tentang persiapan untuk periode serah terima.
Salah satu bidang kerja sama yang paling berwawasan ke depan adalah penggunaan kecerdasan buatan di bidang keuangan.
Kedua pihak membahas bagaimana AI dapat membantu meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya layanan, dan memperluas akses ke layanan keuangan, khususnya karena pemerintah dan regulator di seluruh kawasan mendorong sistem keuangan yang lebih modern dan inklusif.
Kerja sama energi merupakan tema sentral lainnya, terutama dorongan jangka panjang untuk Jaringan Listrik ASEAN.
Proyek ini semakin dianggap bukan hanya sebagai tujuan infrastruktur tetapi juga sebagai lindung nilai strategis terhadap risiko energi impor.
ASEAN, bersama dengan Bank Pembangunan Asia dan Grup Bank Dunia, meluncurkan Inisiatif Pembiayaan Jaringan Listrik ASEAN pada Oktober 2025, yang menggarisbawahi dorongan blok tersebut untuk menjadikan konektivitas listrik regional sebagai realitas yang lebih layak investasi dan dapat diwujudkan.
Dorongan tersebut sudah semakin konkret. Diskusi kebijakan regional pada tahun 2026 telah menyoroti pentingnya perdagangan listrik lintas batas, termasuk aliran listrik dari Laos melalui Thailand dan Malaysia ke Singapura, sebagai langkah praktis menuju pasar energi ASEAN yang lebih terintegrasi dan tangguh.
Bagi Thailand, pertemuan ini sangat sesuai dengan pesan Ekniti yang lebih luas di Washington: bahwa krisis energi saat ini tidak hanya harus dikelola, tetapi juga digunakan untuk mempercepat perubahan struktural.
Baik Bangkok maupun Singapura tampaknya memiliki ambisi jangka panjang yang sama: mengubah periode ketegangan geopolitik menjadi dorongan regional yang lebih terkoordinasi dalam hal keamanan energi, keuangan digital, dan ketahanan ekonomi.




