>Pemerintah Thailand telah meluncurkan kerangka kebijakan bernama "The Lost Taste" untuk mengomersialkan 231 resep lokal yang terancam punah atau terlupakan.
>Untuk mendukung rencana tersebut, sistem sertifikasi "Thailand Best Local Food" akan diperkenalkan, dengan tingkatan untuk sajian yang autentik ("Classic") maupun modern ("Creative + Innovation").
>Inisiatif ini bertujuan memanfaatkan peringkat *soft power* global Thailand yang tinggi di bidang kuliner untuk mendorong pariwisata daerah dan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
>Program percontohan yang melibatkan lima restoran akan diluncurkan pada bulan September 2026, menampilkan hidangan khusus serta kampanye promosi untuk menarik wisatawan yang berminat pada wisata kuliner (*gastronomy tourism*).

Bangkok, Suarathailand- Pemerintah Thailand telah meluncurkan kerangka kebijakan untuk mengomersialkan 231 resep lokal yang terancam punah, dengan memanfaatkan peringkat sepuluh besar *soft power* global yang dimilikinya.
Pemerintah Thailand telah memperkenalkan kerangka kebijakan yang bertujuan memberikan nilai tambah ekonomi pada kuliner daerah dengan menghidupkan kembali dan mengomersialkan 231 resep lokal yang terancam punah di seluruh negeri.
Di bawah kepemimpinan Wakil Perdana Menteri Anutin Charnvirakul—yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri—pemerintah berupaya mengubah warisan budaya menjadi penggerak ekonomi yang terstruktur bagi pariwisata daerah dan pengembangan bisnis lokal.
Saat mengumumkan inisiatif ini pada hari Rabu, Wakil Juru Bicara Pemerintah Lalida Persvivatana memaparkan bagaimana Kementerian Kebudayaan, yang dipimpin oleh Menteri Sabida Thaiseth, akan melaksanakan proyek "The Lost Taste" dalam lingkup konsep yang lebih luas, yaitu "Living Heritage" (Warisan Hidup).
Program yang dikelola oleh Departemen Promosi Budaya ini menghimpun pengetahuan kuliner tradisional, teknik memasak, dan resep langka yang terancam oleh urbanisasi, guna menciptakan pengalaman kuliner bernilai tinggi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Di balik setiap hidangan, terdapat bahan-bahan asli, kearifan lokal, teknik memasak, gaya hidup setempat, dan kisah masyarakat," ujar Lalida. "Pemerintah bertujuan memanfaatkan popularitas internasional hidangan Thailand yang sudah dikenal luas dengan mendorong wisatawan untuk menjelajahi keragaman kuliner daerah, sehingga menghasilkan nilai tambah langsung bagi ekonomi lokal."
Kerangka Standardisasi dan Akreditasi
Untuk mendukung peluncuran komersial ini, Departemen Promosi Budaya telah menetapkan sistem sertifikasi "Thailand Best Local Food". Dikembangkan berdasarkan wawasan dari tujuh pakar kuliner dan data survei dari lebih dari 400 konsumen, tolok ukur ini mengevaluasi hidangan berdasarkan keaslian budaya, sumber bahan baku daerah, dan integritas kuliner.
Akreditasi akan diberikan dalam dua kategori berbeda:
Klasik: Diperuntukkan bagi tempat makan yang secara ketat mempertahankan resep autentik, metode persiapan tradisional, dan identitas historis.
Kreatif + Inovasi: Dirancang untuk adaptasi kuliner kontemporer yang mengemas ulang cita rasa daerah tradisional agar sesuai dengan selera makan modern, namun tetap melestarikan elemen budaya utamanya.
DITP merampungkan Program Jaringan Thai SELECT, yang menghubungkan para pelaku bisnis restoran global dengan rantai pasok Thailand guna mendorong pertumbuhan ekspor.
DITP merampungkan Program Jaringan Thai SELECT, yang menghubungkan para pelaku bisnis restoran global dengan rantai pasok Thailand guna mendorong pertumbuhan ekspor.
Program Percontohan dan Metrik *Soft Power*
Sebagai bagian dari tahap awal, lima restoran percontohan telah dipilih untuk menguji coba model narasi kuliner. Kementerian Kebudayaan akan meluncurkan "The Lost Taste Special Course" pada bulan September 2026, bersamaan dengan kampanye promosi berseri bertajuk "5 Series, 5 Restaurants" untuk mendorong wisata berbasis gastronomi di berbagai provinsi daerah.
Dorongan kebijakan ini menyusul dirilisnya *Global Soft Power Index 2026* oleh Brand Finance, yang menempatkan Thailand di peringkat ke-7 dunia dalam kategori "Makanan yang Disukai Dunia" (*Food the World Loves*). Indeks yang sama juga menempatkan negara ini di peringkat ke-12 dunia sebagai "Tempat yang Bagus untuk Dikunjungi" (*Great Place to Visit*), naik dua peringkat dibandingkan tahun 2025.
Para pejabat pemerintah menegaskan bahwa inisiatif ini melampaui sekadar pelestarian arsip, melainkan berfokus pada integrasi ekonomi yang aktif.
Dengan membangun ekosistem komersial bagi resep-resep warisan budaya, kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pengeluaran pengunjung di daerah, menumbuhkan kewirausahaan lokal, serta mendorong generasi muda untuk mempertahankan keterampilan kuliner tradisional. TheNation




