Dunia Mencatat Bulan Juli 2026 Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah

WMO menyebutkan Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanasnya sepanjang sejarah, dengan suhu panas ekstrem terus berlanjut hingga Agustus.


WMO, Suarathailand- Xinhua melaporkan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mencatat Juli 2026 termasuk bulan terpanas kedua sepanjang sejarah. Hal ini terkait panas ekstrem, kekeringan berkepanjangan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sebagian besar wilayah Belahan Bumi Utara, sementara hujan lebat dan banjir menerjang kawasan-kawasan lain.

WMO menyebut suhu udara permukaan rata-rata global pada Juli menyentuh 1,47 derajat Celsius di atas perkiraan rata-rata pra-industri untuk periode 1850-1900, sebut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service) sebagaimana dikutip oleh WMO.

WMO menyebutkan Eropa Barat mengalami periode Juni-Juli terpanasnya sepanjang sejarah, dengan suhu panas ekstrem terus berlanjut hingga Agustus dan beberapa negara kini sedang menghadapi gelombang panas keempat mereka sejak Mei.

"Apa yang kami saksikan dalam beberapa bulan terakhir merupakan dampak gabungan dari pemanasan jangka panjang dengan pola sistem tekanan udara tinggi dan rendah yang bergantian secara terus-menerus di seluruh Belahan Bumi Utara," kata Kepala Informasi Iklim WMO John Kennedy.

Kennedy mengatakan bahwa sistem tekanan udara tinggi biasanya dikaitkan dengan suhu tinggi dan kondisi kering, sedangkan sistem tekanan udara rendah cenderung membawa cuaca yang lebih sejuk dan lebih basah.

Dia menjelaskan bahwa pola tekanan tinggi semacam itu dapat bertahan selama berhari-hari atau bahkan berpekan-pekan, seperti yang terjadi tahun ini.

Curah hujan dan kelembapan tanah yang sangat rendah dilaporkan terjadi di Prancis, Spanyol, sebagian wilayah Jerman dan Inggris, serta daerah-daerah yang terletak lebih jauh ke timur.

WMO menjelaskan bahwa suhu panas, kelembapan tanah yang rendah, dan kekeringan telah menimbulkan dampak yang sangat parah terhadap ekosistem dan pertanian, menurunkan ketinggian air sungai, mengganggu transportasi dan produksi energi, serta meningkatkan risiko karhutla.

Selain itu, Juli juga mencatatkan peristiwa karhutla dahsyat di Eropa Barat, baik dari segi luas area yang terbakar maupun emisi yang dihasilkan.

Share: