>Tentara Thailand membantah pasukannya telah melanggar wilayah Kamboja, menyatakan bahwa mereka telah sepenuhnya mematuhi posisi yang disepakati dalam pernyataan bersama.
>Thailand membenarkan kehadiran pasukannya sebagai tindakan keamanan yang diperlukan dan defensif, dengan menuduh daerah tersebut digunakan oleh pasukan Kamboja sebagai pangkalan militer untuk menyerang Thailand.
>Lokasi yang dimaksud juga ditemukan sebagai operasi penipuan transnasional berskala besar, dengan bukti kejahatan siber industri yang ditemukan.
>Thailand menyatakan komitmennya untuk menyelesaikan situasi melalui mekanisme dan kerja sama bilateral, mendesak fokus pada penanganan ancaman bersama seperti kejahatan transnasional.
Bangkok, Suarathailand- Pusat Informasi Gabungan tentang Situasi Thailand-Kamboja (JIC) pada hari Jumat (10 April) mengklarifikasi fakta-fakta terkait tuduhan terbaru tentang kehadiran pasukan Thailand di daerah Chong Chom, Provinsi Surin, di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja, sebagai berikut:
1. Kepatuhan Ketat terhadap Pernyataan Bersama
Thailand menegaskan kembali komitmen penuhnya terhadap Pernyataan Bersama yang disepakati pada pertemuan Komite Perbatasan Umum Khusus (GBC) pada tanggal 27 Desember 2025, khususnya paragraf 2, di mana kedua belah pihak sepakat untuk mempertahankan pasukan di posisi mereka saat ini di sepanjang garis penempatan pasukan dan menahan diri dari tindakan apa pun yang akan mengubah situasi di lapangan.
Pasukan Thailand telah mematuhi ketentuan ini secara ketat, tanpa pelanggaran, tanpa penguatan, dan tanpa perubahan posisi dari garis yang disepakati bersama oleh kedua belah pihak.
2. Tindakan Thailand untuk Keamanan dan Keselamatan
Kehadiran pasukan Thailand bukanlah tindakan penegakan hukum sepihak di negara lain, melainkan tindakan keamanan dan keselamatan yang diperlukan sebagai respons terhadap ancaman transnasional yang nyata di wilayah perbatasan, menyusul penemuan bahwa pasukan Kamboja telah menggunakan wilayah tersebut sebagai pangkalan militer untuk menyerang Thailand.
3. Pengendalian Thailand untuk Mencegah Ancaman Militer
Karena wilayah tersebut digunakan sebagai pangkalan militer oleh pasukan Kamboja untuk menyerang Thailand, tindakan Thailand dimaksudkan untuk melindungi kedaulatannya dan bersifat defensif, terbatas dalam cakupan dan bertujuan preventif, bukan sebagai pelaksanaan otoritas kedaulatan atas negara lain.
4. Ketergantungan pada Mekanisme Bilateral
Thailand tetap berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini melalui mekanisme bilateral seperti Komite Perbatasan Regional (RBC), Komite Perbatasan Umum (GBC), dan Komisi Perbatasan Bersama (JBC).
Komunikasi berkelanjutan tetap terjalin antara kedua belah pihak, dan semua tindakan dilakukan berdasarkan prinsip de-eskalasi.
5. Fakta, Bukan Distorsi
Situasi ini tidak boleh diinterpretasikan melalui lensa informasi yang terdistorsi.
Bukti yang ditemukan di area tersebut menunjukkan bahwa, selain bangunan yang digunakan sebagai pangkalan militer untuk menyerang Thailand, lokasi tersebut juga merupakan kompleks penipuan besar.
Oleh karena itu, Thailand mengizinkan akses media untuk memeriksa lokasi tersebut dan menginformasikan komunitas internasional, yang mencerminkan transparansi tindakannya dalam masalah ini.
Bukti yang ditemukan di lokasi tersebut yang dapat mendukung studi lebih lanjut, analisis, dan operasi anti-penipuan termasuk sejumlah besar kartu SIM asing, skrip penipuan multibahasa, dan infrastruktur yang konsisten dengan operasi penipuan skala industri.
Ini jelas menunjukkan bahwa area tersebut telah digunakan sebagai pusat kejahatan siber transnasional yang memengaruhi orang-orang di banyak negara, dan bahwa ancaman tersebut harus terus ditangani secara kolektif.
6. Tanggung Jawab Bersama
Menangani kejahatan transnasional membutuhkan kerja sama, bukan konfrontasi. Kedua belah pihak telah sepakat, berdasarkan paragraf 8 dan 10 Pernyataan Bersama, untuk mencegah berita palsu dan informasi yang menyimpang serta bekerja sama dalam menangani kejahatan transnasional.
Komunikasi yang provokatif atau menyesatkan hanya akan merusak kerja sama tersebut.
Tindakan Thailand didasarkan pada tiga prinsip utama: menghormati kesepakatan bersama, perlindungan rakyat, dan menjaga stabilitas regional.
Jalan ke depan harus berfokus pada kerja sama dan solusi bersama, daripada menciptakan konflik melalui narasi yang saling bertentangan.
“Kebenaran, transparansi, dan kerja sama adalah fondasi perdamaian berkelanjutan.”



