Thailand Bakal Punya Kereta Cepat, Kalahkan Whoosh Indonesia?

Pemilihan desain akhir untuk proyek ini 2024 dan penawaran untuk proyek tersebut dimulai pada tahun 2025. 


> Proyek awal sepanjang 7,3 kilometer diperkirakan menelan biaya sekitar USD3 miliar.   

> Kereta cepat Thailand-Tiongkok dirancang untuk meningkatkan konektivitas ASEAN

> Proyek kereta api berkecepatan tinggi Thailand-Tiongkok diproyeksikan beroperasi penuh 2028. 


Duta Besar Tiongkok Han Zhiqiang memproyeksikan peningkatan signifikan dalam kolaborasi antara Thailand dan Tiongkok setelah selesainya proyek kereta api berkecepatan tinggi. 

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah seminar yang membahas hubungan ekonomi antara kedua negara dan perjanjian bebas visa Thailand-Tiongkok, yang diadakan oleh Asosiasi Jurnalis Thailand-Tiongkok baru-baru ini.

Han menekankan penyelesaian pembangunan kereta api berkecepatan tinggi Thailand-Tiongkok akan meningkatkan konektivitas Thailand dengan Laos, Tiongkok, dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada umumnya, mengingat lokasi Thailand yang strategis dan terhubung dengan berbagai kawasan.

Proyek kereta api berkecepatan tinggi Thailand-Tiongkok, diawasi oleh Kementerian Perhubungan, diproyeksikan akan beroperasi penuh pada tahun 2028. 

Ruas Nong Khai-Vientiane direncanakan menjadi segmen jalur kereta api pertama yang selesai dibangun. 

Komite proyek sangat tertarik untuk mempercepat jalur sepanjang 7,3 kilometer yang diperkirakan menelan biaya sekitar USD3 miliar. Thailand sedang melakukan studi kelayakan pada proyek ini.

Pemilihan desain akhir untuk proyek ini akan dilakukan tahun ini, dan penawaran untuk proyek tersebut akan dimulai pada tahun 2025. 

Jalur kereta api yang membentang sepanjang 606 kilometer, akan menghubungkan kota Nong Khai dan Bangkok di bagian Thailand. Kereta berkecepatan tinggi pada akhirnya akan diperluas untuk menghubungkan Laos dan Tiongkok.

Duta Besar Han juga menggarisbawahi potensi dampak proyek transportasi dan kebijakan seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional dalam membuka peluang baru bagi kolaborasi Thailand-Tiongkok. 

Perlunya diskusi untuk meningkatkan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok (ACFTA) juga ditekankan, karena peningkatan tersebut dapat memperkuat kerja sama di berbagai sektor.

ACFTA yang beroperasi sejak tahun 2004, secara bertahap mengurangi bea masuk. Berdasarkan perjanjian tersebut, barang-barang jalur normal pada akhirnya akan memiliki tarif akhir nol, sedangkan barang-barang jalur sensitif akan menerima pemotongan atau pembebasan bea masuk pada tahap selanjutnya.

Departemen Perdagangan Luar Negeri menyoroti pengaruh menguntungkan ACFTA terhadap ekspor Thailand ke Tiongkok, khususnya produk gula olahan seperti sirup, madu buatan, dan berbagai pemanis. 

Selama dekade terakhir, ekspor gula olahan Thailand ke Tiongkok telah melonjak sebesar 145% setiap tahunnya.

Tiongkok sebagai pasar ekspor utama produk pertanian Thailand menyumbang 42% dari total pengiriman. Produk dengan permintaan tinggi termasuk gula olahan, tidak termasuk gula mentah, seperti sirup, madu buatan, karamel, dan pemanis lainnya, yang banyak digunakan dalam sektor makanan, minuman, dan farmasi. (Bangkok Post)

Share: