Selain fusi nuklir terkontrol, perjanjian itu mencakup kedokteran nuklir, teknologi akselerator, dan teknologi fotonik dan kuantum baru.
Beijing, Suarathailand- Sputnik melaporkan CEO Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexey Likhachev, menandatangani tiga nota kesepahaman antarlembaga selama kunjungan resmi Presiden Rusia ke China pada 19-20 Mei 2026.
"Kita dipersatukan oleh sejarah panjang kemitraan strategis, tidak hanya dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga dalam pengembangan teknologi masa depan," kata Alexey Likhachev, dalam sebuah pernyataan yang terdapat di situs web resmi milik Rosatom.
Likhachev mengatakan memorandum tersebut merupakan bagian dari kerja sama jangka panjang di bidang-bidang fundamental ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya fusi nuklir terkontrol.
Kesepakatan ini menunjukkan kesiapan kedua negara untuk memajukan dan memperdalam kerja sama antara kedua negara di bidang energi nuklir dan bidang terkait.
Memorandum pertama yang ditandatangani dengan Otoritas Energi Atom China meliputi kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia untuk penggunaan energi nuklir secara damai.
Dokumen tersebut mengatur pembentukan dan penguatan kerja sama dalam pengembangan tenaga kerja, pertukaran pengalaman dan praktik terbaik dalam pelatihan personel untuk industri nuklir, dan perluasan kerja sama antara komunitas profesional pemuda dan perempuan di kedua negara.
Memorandum tersebut ditandatangani oleh Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev dan Kepala Otoritas Energi Atom China Shan Zhongde.
Berikutnya, memorandum kedua ditandatangani dengan Kementerian Sains dan Teknologi China. Kesepakatan tersebut merupakan kerja sama ilmiah dan teknis di bidang fusi nuklir terkontrol.
Rusia dan China disebut sebagai pemimpin yang diakui di bidang tersebut, dengan kedua negara menerapkan program nasional berskala besar dan bersama-sama berpartisipasi dalam proyek internasional ITER (International Thermonuclear Experimental Reactor).
Dokumen tersebut ditandatangani oleh Alexey Likhachev dan Menteri Sains dan Teknologi China, Yin Hejun.
Sementara itu, memorandum ketiga ditandatangani dengan Akademi Ilmu Pengetahuan China dan merupakan kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Selain fusi nuklir terkontrol, perjanjian itu mencakup kedokteran nuklir, teknologi akselerator, dan teknologi fotonik dan kuantum baru, bidang-bidang di mana Rusia dan China telah banyak mencapai kemajuan.
Memorandum tersebut ditandatangani oleh Alexey Likhachev dan Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan China, Hou Jianguo.



