"Data menunjukkan kami memberhentikan 10 persen jenderal dan laksamana di seluruh jajaran militer," ujar Hegseth.
AS, Suarathailand- Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan Amerika Serikat telah memangkas jumlah jenderal dan laksamananya sebesar 20 persen, sebuah langkah yang menurutnya bertujuan untuk mewujudkan "akuntabilitas."
Pemangkasan tersebut menyasar para perwira yang tidak mendukung upayanya untuk memastikan militer berfokus pada kemampuan tempur, alih-alih pada kebijakan-kebijakan "woke" (ideologi progresif yang sangat peduli pada isu keadilan sosial dan identitas) dari pemerintahan sebelumnya; ia menyebut pengurangan ini sebagai sebuah "pencapaian."
"Data menunjukkan kami memberhentikan 10 persen jenderal dan laksamana di seluruh jajaran militer," ujar Hegseth di hadapan para prajurit di pangkalan militer Quantico. "Kami juga telah mengurangi jumlah keseluruhan posisi perwira tinggi sebesar 10 persen lagi."
"Jadi ya, ada pengurangan 20 persen secara menyeluruh," katanya. "Media menyebutnya sebagai pembersihan (purge). Saya menyebutnya akuntabilitas, dan ini sudah lama seharusnya dilakukan."
Pidato di hadapan para perwira muda dan tamtama di Quantico ini disampaikan setahun setelah pidato serupa yang ditujukan kepada para perwira tinggi, di mana Hegseth menyatakan bahwa militer AS terlalu gemuk, terlalu berfokus pada gagasan "woke" sayap kiri, dan membutuhkan perombakan besar-besaran.
Pada hari Rabu, ia mengatakan bahwa para perwira tinggi yang "merespons secara positif" pidato sebelumnya kini "memimpin formasi yang memiliki fokus baru, serta lebih berdaya dan disiplin," sementara mereka yang tidak mendukungnya "tidak lagi bekerja di sini."
"Kita bukan lagi departemen yang menganut paham 'woke', atau departemen yang lemah," tegas Hegseth.
"Artinya sederhana: tidak ada orang yang kegemukan, tidak ada transgender, tidak ada yang berjanggut (melanggar aturan penampilan), tidak ada orang aneh, tidak ada pengecut, dan tidak ada radikal. Hanya ada prajurit sejati—pasukan yang tangguh, siap sedia, dan berkomitmen." - Memangkas 'lemak' -
Hegseth memerintahkan pemangkasan besar-besaran di tubuh militer AS—termasuk pengurangan 10 persen dari jumlah keseluruhan jenderal dan laksamana, serta penurunan 20 persen pada pangkat tertinggi bintang empat—pada Mei 2025.
Terdapat 831 jenderal dan laksamana aktif AS pada akhir bulan tersebut, namun data Pentagon per akhir Juli 2026—data terbaru yang tersedia—menunjukkan jumlah perwira tinggi justru lebih banyak, yakni total 851 orang.
Dalam sidang konfirmasi pada Januari 2025, Hegseth berpendapat bahwa birokrasi Pentagon terlalu gemuk di tingkat atas dan perlu dipangkas.
"Tugas saya, bersama dengan mereka yang kami rekrut dan pihak-pihak di dalam pemerintahan, adalah mengidentifikasi bagian mana yang bisa dipangkas 'lemak'-nya, sehingga sumber daya tersebut dapat dialihkan untuk meningkatkan daya tempur," ujarnya kepada para anggota parlemen saat itu.
Sejak kembali menjabat awal tahun lalu, Trump telah memimpin pembersihan jajaran perwira tinggi militer, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff), Jenderal Charles "CQ" Brown, yang ia pecat tanpa penjelasan pada Februari 2025.
Perwira senior lain yang disingkirkan meliputi para kepala staf Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Penjaga Pantai AS; jenderal yang memimpin Badan Keamanan Nasional (NSA); wakil kepala staf Angkatan Udara AS; laksamana Angkatan Laut yang ditugaskan di NATO; serta tiga pejabat hukum militer tertinggi.
Kepala Staf Angkatan Udara juga mengumumkan pengunduran dirinya tanpa penjelasan saat baru menjalani dua tahun dari masa jabatan empat tahun, sementara kepala Komando Selatan AS (US Southern Command) pensiun setelah satu tahun menjabat.
Hegseth bersikeras bahwa presiden hanya memilih pemimpin yang ia inginkan, namun anggota parlemen dari Partai Demokrat telah menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi politisasi militer AS yang secara tradisional bersikap netral.




