Pekerja Garmen Bangladesh Bentrok dengan Polisi Tuntut Kenaikan Upah

Negara di Asia Selatan dengan populasi 170 juta jiwa ini merupakan eksportir garmen terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, yang memproduksi pakaian untuk sejumlah merek internasional ternama.


Bangladesh, Suarathailand- Ribuan pekerja garmen Bangladesh memblokir jalan raya utama dan terlibat bentrokan dengan polisi pada hari Senin. Mereka menuntut upah minimum bulanan yang nilainya lebih dari dua kali lipat dari gaji saat ini, seiring dengan meluasnya aksi protes di berbagai pusat industri.

Negara di Asia Selatan dengan populasi 170 juta jiwa ini merupakan eksportir garmen terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, yang memproduksi pakaian untuk sejumlah merek internasional ternama.

Menurut laporan wartawan Agence France-Presse (AFP), ratusan pekerja di Gazipur, sebelah utara ibu kota Dhaka, memblokir jalan raya Dhaka-Tangail dan merusak beberapa kendaraan. Sementara itu, kelompok besar lainnya turun ke jalan di distrik Mirpur, tempat polisi membubarkan para pengunjuk rasa menggunakan gas air mata.

Para pekerja yang marah juga membakar sebuah kendaraan polisi.

Aksi protes ini terjadi meskipun pemerintah pada hari Minggu telah mengumumkan pembentukan dewan pengupahan untuk meninjau upah minimum di industri garmen—sektor vital yang mempekerjakan jutaan orang dan menyumbang sebagian besar pendapatan ekspor Bangladesh.

Namun, para pemimpin serikat pekerja menyatakan bahwa keluhan para pekerja tidak terbatas pada pembentukan dewan tersebut; mereka menyoroti masalah inflasi dan meningkatnya biaya kebutuhan rumah tangga.

Para pengunjuk rasa menuntut upah bulanan sebesar 30.000 taka (US$241), atau lebih dari dua kali lipat dari gaji yang mereka terima saat ini.

Menurut Kalpona Akter dari Bangladesh Center for Workers Solidarity, para pekerja saat ini memperoleh penghasilan sekitar 13.000 taka per bulan.

Polisi menembakkan granat kejut dan tabung gas air mata untuk membubarkan massa di Ashulia, sebuah kawasan di pinggiran Dhaka yang menjadi lokasi bagi beberapa pabrik terbesar di negara tersebut.

"Harga pangan, gas untuk memasak, dan tagihan listrik semuanya naik—pemerintah harus menurunkan harga kebutuhan pokok atau menaikkan upah kami," ujar Mamum, 28 tahun, seorang pekerja pabrik.

Sharmin, 24 tahun, seorang operator mesin, mengatakan: "Kami yang menjaga roda ekonomi tetap berputar. Mereka harus mendengarkan kami."

Menteri Dalam Negeri Salahuddin Ahmed memperingatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas untuk menghentikan aksi protes tersebut. "Mereka yang terlibat dalam kegiatan melanggar hukum dan konspirasi dengan kedok gerakan buruh akan ditindak dengan tangan besi," ujarnya setelah bertemu dengan para pemimpin industri pada hari Senin.


'Tindakan Tegas'

Namun, Ahmed juga menyampaikan bahwa sebelumnya, Perdana Menteri Tarique Rahman telah menginstruksikan para pejabat—usai memimpin rapat kabinet darurat pada Minggu malam—untuk "memastikan hak-hak pekerja dan meningkatkan taraf hidup mereka".

Ia mengatakan bahwa Rahman telah meminta mereka untuk memastikan kegiatan produksi dan ekspor tetap berjalan "tanpa hambatan".

Asosiasi produsen pakaian dan pakaian rajut utama di Bangladesh memperingatkan bahwa "kerusuhan yang berkepanjangan dapat mengganggu produksi, menunda pengiriman ekspor, dan memengaruhi komitmen Bangladesh terhadap pembeli internasional", demikian dilaporkan kantor berita pemerintah Bangladesh Sangbad Sangstha (BSS) pada hari Senin.

Kamrul Hasan, sekretaris jenderal Ekota Garments Sramik Federation, mengatakan kepada AFP bahwa beberapa pemimpin buruh telah bersembunyi.

"Kami pun tidak siap menghadapi kerusuhan ini, mengingat dewan pengupahan sudah dibentuk," ujarnya. "Namun, para pekerja kini melakukan protes terkait upah dan berbagai masalah lain yang belum terselesaikan."

Di Ashulia, petugas keamanan mengejar para pengunjuk rasa yang berlarian ke jalan-jalan kecil, sementara gas air mata yang menyesakkan menyebar hingga ke kawasan permukiman padat, tempat keluarga-keluarga sering kali tinggal berdesakan dalam satu ruangan.

"Polisi menembakkan gas air mata ke dalam kompleks tempat tinggal kami," kata Kamona, 24 tahun, yang hanya menyebutkan satu nama. "Ada anak-anak di sini, tetapi mereka tidak peduli."

Perwakilan industri menyatakan bahwa para pekerja dari setidaknya 529 pabrik di Dhaka dan kawasan industri sekitarnya—termasuk Savar, Ashulia, Jirani, dan Gazipur—telah meninggalkan tempat kerja mereka pada hari Minggu.

Share: