Gawat Israel Batasi Gerak di Gaza, Kekhawatiran akan Pembersihan Etnis Meningkat

Serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 74.570 orang dan melukai 175.808 lainnya sejak Oktober 2023.


Gaza, Suarathailand- Pasukan Israel di Gaza terus menggusur lebih banyak warga Palestina, dan tindakan mereka kian memicu kekhawatiran akan terjadinya pembersihan etnis, demikian peringatan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR).

OHCHR menyebut warga Palestina berulang kali dipaksa berpindah oleh pasukan Israel ke wilayah yang kian menyempit di dalam kantong yang terkepung tersebut.

Badan PBB itu menyatakan bahwa militer Israel terus merangsek melampaui garis penempatan pasukannya—yang dikenal sebagai "Garis Kuning"—dan tampaknya memperlakukan garis tersebut sebagai "zona pembunuhan" (kill zone). 

Hal ini dilakukan mencegah warga Palestina untuk kembali ke sisa-sisa rumah mereka yang berada di sisi seberang garis tersebut.

OHCHR memperingatkan bahwa militer Israel terus menghancurkan infrastruktur sipil yang tersisa serta menyerang lokasi-lokasi pengungsian, sejalan dengan tujuan yang mereka nyatakan untuk memperluas area penempatan militer hingga mencakup 70 persen wilayah Gaza.

Kelompok hak asasi manusia dan lembaga bantuan telah berulang kali mendesak Israel untuk menghentikan penggusuran paksa terhadap warga Palestina di Gaza serta berhenti menyerang tempat-tempat penampungan selama konflik berlangsung.

OHCHR mendokumentasikan perluasan militer Israel ke arah barat selama dua pekan terakhir, yang memicu gelombang pengungsian baru bagi warga Palestina di Shujayea (Kota Gaza), serta di wilayah timur Bureij, Deir el-Balah, dan Al-Maghazi di Gaza Tengah.

Badan PBB tersebut mencatat bahwa di Shujayea, setidaknya terjadi dua serangan Israel terhadap kamp-kamp pengungsian, di mana robot peledak digunakan untuk menghancurkan bangunan-bangunan yang masih berdiri di area tersebut.

OHCHR juga menerima laporan bahwa pada hari Minggu, sebuah pesawat nirawak (drone) Israel menjatuhkan amunisi ke arah tenda yang menampung warga Palestina yang mengungsi di persimpangan Shujayea. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Palestina di Gaza menyatakan bahwa kebakaran yang diakibatkannya memaksa 200 keluarga—yang terdiri dari 800 orang—untuk kembali mengungsi.

Ajith Sunghay, kepala OHCHR di wilayah Palestina yang diduduki, menyebut "mimpi buruk pengungsian" di Gaza sebagai situasi yang "akut sekaligus kronis". 

“Mereka yang terusir sebelum pengumuman gencatan senjata hampir tidak memiliki peluang untuk kembali ke wilayah asal mereka—wilayah yang sebagian besar kini tidak dapat diakses karena berada di luar apa yang disebut sebagai ‘Garis Kuning’. Mereka pun terus-menerus mengalami pengungsian berulang kali,” tambah Sunghay.



Share: