"Mereka (AS) yang menuntut penyerahan tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon diadakannya perundingan."
Teheran, Suarathailand- Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araqchi, menyatakan Teheran telah "memenangkan perang sekaligus diplomasi". Ia menambahkan bahwa pihak-pihak yang awalnya menuntut penyerahan tanpa syarat dari Republik Islam tersebut, belakangan justru mengupayakan perundingan.
Araqchi mengatakan Iran bertahan selama berhari-hari melawan kekuatan militer yang digadang-gadang sebagai yang terbesar di dunia, yang didampingi oleh pasukan lain yang juga mengklaim kekuatan militer besar, serta didukung oleh hampir seluruh negara Barat dan sejumlah negara lain di dalam dan di luar kawasan tersebut.
"Mereka yang menuntut penyerahan tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon diadakannya perundingan," tambahnya.
Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mendesak Iran untuk menyerah dan "mengibarkan bendera putih".
AS dan rezim Israel melancarkan perang melawan Iran pada akhir Februari. Namun, empat puluh hari kemudian, pihak lawan terpaksa menerima gencatan senjata di tengah perlawanan Iran dan keberhasilan operasi militer balasan negara tersebut.
Sang Menteri Luar Negeri menyatakan Teheran awalnya menolak gencatan senjata dan terus bertempur hingga mencapai titik di mana pihak lawan menerima gencatan senjata serta perundingan "sesuai dengan ketentuan Iran".
"Iran bertempur dengan kekuatan, dan kami berunding dengan kekuatan," ujarnya, seraya menambahkan bahwa banyak menteri luar negeri yang mengatakan kepadanya, "Anda memenangkan perang sekaligus diplomasi."



