Langka dan Berisiko: Jet Tempur Iran Tampilkan Taktik Terbang Sangat Rendah

>Penerbangan pada ketinggian sangat rendah menuntut pilot yang memiliki tingkat keterampilan, pengalaman, dan kesiapan yang tinggi.

>Para pilot harus terbang pada ketinggian kurang dari 30 meter demi menyelesaikan misi.


Teheran, Suarathailand- Rilis rekaman yang memperlihatkan jet tempur Iran terbang pada ketinggian sangat rendah kembali menampilkan taktik "NOE" (*Nap-of-the-Earth*)—sebuah metode yang memanfaatkan kontur medan untuk menyulitkan pasukan musuh dalam mendeteksi pesawat serta menghambat respons sistem pertahanan udara. 

Taktik ini telah digunakan dalam misi-misi terkini yang melibatkan jet tempur F-5 dan Su-24 milik Iran.

Rekaman tersebut memperlihatkan jet tempur F-4 Angkatan Udara Iran terbang pada ketinggian sangat rendah, menyuguhkan pemandangan langka akan salah satu keterampilan paling menantang dalam penerbangan tempur. 

Dikenal dalam terminologi militer sebagai "penerbangan tingkat rendah yang sangat dekat dengan permukaan tanah" atau NOE (*Nap-of-the-Earth*), taktik ini terutama ditujukan untuk mengurangi kemungkinan deteksi dan serangan oleh radar serta sistem pertahanan udara musuh.

Hal ini menjadi semakin signifikan mengingat rincian yang baru dirilis mengenai misi khusus yang dijalankan oleh pesawat Su-24 Angkatan Udara Iran selama konflik 40 hari.

Menurut wakil koordinator Angkatan Udara, misi tersebut direncanakan untuk menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar—pusat komando utama AS di kawasan tersebut—dan para pilot diwajibkan terbang pada ketinggian sangat rendah di sepanjang pelaksanaan misi.

Secara sederhana, NOE atau penerbangan *Nap-of-the-Earth* adalah metode di mana pesawat terbang pada ketinggian sangat rendah, dengan posisi sedekat mungkin mengikuti kontur dan bentuk permukaan medan. Konsep dasarnya adalah memanfaatkan lingkungan alami untuk membatasi jarak pandang (*line of sight*) sistem deteksi musuh.

Namun, taktik ini membawa risiko yang besar. Semakin dekat pesawat terbang dengan permukaan tanah, semakin tinggi risiko menabrak rintangan, semakin berat beban kerja awak pesawat, semakin sulit navigasi dilakukan, dan semakin sedikit waktu yang tersedia untuk bereaksi terhadap ancaman tak terduga. 

Oleh karena itu, penerbangan pada ketinggian sangat rendah menuntut pilot yang memiliki tingkat keterampilan, pengalaman, dan kesiapan yang tinggi.

Berdasarkan pernyataan terbaru dari wakil koordinator Angkatan Udara, empat pilot dari Pangkalan Udara Shahid Doran melaksanakan misi khusus setelah berhasil menembus lapisan pertahanan udara yang dilengkapi dengan sistem Patriot. 

Laporan tersebut menekankan bahwa para pilot harus terbang pada ketinggian kurang dari 30 meter demi menyelesaikan misi.

Penurunan ketinggian dapat menyebabkan sistem radar berbasis darat mendeteksi target lebih lambat atau menyisakan waktu yang lebih sedikit bagi sistem tersebut untuk memperoleh data pelacakan yang stabil. 

Dengan kata lain, meskipun deteksi pada akhirnya terjadi, pihak penyerang berupaya meminimalkan jeda waktu antara deteksi dan momen saat serangan efektif dapat dilakukan.

Dalam laporan mengenai misi Su-24 tersebut, persoalan utamanya bukan sekadar penerbangan pada ketinggian rendah, melainkan upaya menembus lingkungan pertahanan udara yang dilengkapi dengan sistem Patriot. 

Patriot merupakan salah satu sistem pertahanan udara Barat yang paling dikenal luas dan telah dikerahkan sebagai lapisan pertahanan utama dalam menghadapi ancaman udara serta rudal di berbagai jaringan pertahanan regional.

Penerbangan ketinggian rendah bukanlah konsep baru bagi Angkatan Udara Iran. Selama Perang Iran-Irak, pilot-pilot Iran berulang kali melakukan penerbangan ketinggian rendah untuk meminimalkan risiko terdeteksi oleh sistem pertahanan udara musuh.

Misi pesawat Su-24 milik Angkatan Udara Iran tersebut juga menunjukkan bahwa selama perang yang berlangsung selama 40 hari itu, penerbangan ketinggian rendah bukan sekadar keterampilan latihan atau teknik demonstrasi, melainkan diterapkan dalam misi nyata di tengah lingkungan yang penuh dengan ancaman pertahanan udara.

Rekaman yang dirilis tersebut hanya memperlihatkan penerbangan berdurasi beberapa detik. Namun, di balik durasi singkat itu tersimpan pengalaman penerbangan tempur, pelatihan, latihan, serta transfer keahlian penerbangan yang diperoleh melalui proses panjang dan kerja keras.

Share: