Ketegangan di Hormuz Meningkat Saat Thailand Evakuasi 1.283 Warganya dari Timteng

Thailand menyerukan kepada semua pihak terkait untuk kembali ke dialog dan diplomasi sesegera mungkin guna mengakhiri ketegangan.


Bangkok, Suarathailand- Ketegangan di Selat Hormuz tetap sangat tinggi, dengan operasi militer yang sedang berlangsung untuk membuka kembali jalur pelayaran — sebuah isu yang dipantau ketat oleh Thailand.

Pusat Manajemen dan Pemantauan Bersama untuk Situasi di Timur Tengah memberikan pengarahan situasi pada hari Sabtu (21 Maret), menyoroti perkembangan utama berikut:


Perkembangan Situasi di Timur Tengah

Situasi di Timur Tengah tetap sangat bergejolak, dengan pihak-pihak utama dalam konflik, termasuk Hizbullah, terus saling menyerang. Kekerasan juga telah meluas ke infrastruktur energi di beberapa negara di seluruh kawasan, meningkatkan dampak pada stabilitas ekonomi global dan keamanan energi.

Pada saat yang sama, ketegangan di Selat Hormuz tetap sangat tinggi. Operasi militer telah berlangsung di dekat pantai Iran dalam upaya untuk membuka kembali jalur pelayaran, dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel, sementara Departemen Pertahanan AS telah merujuk pada rencana untuk mengerahkan Marinir tambahan ke Timur Tengah.

Baru-baru ini, otoritas Iran mengkonfirmasi bahwa seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tewas dalam serangan udara Israel.

Untuk Thailand, Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan pada hari Jumat (20 Maret), mengenai kematian seorang pekerja Thailand di Israel sebagai akibat dari konflik di Timur Tengah.

Kementerian tersebut kembali menyerukan kepada semua pihak terkait untuk kembali ke dialog dan diplomasi sesegera mungkin guna mengakhiri ketegangan sesuai dengan hukum internasional dan Piagam PBB, sambil menekankan pentingnya keselamatan warga sipil dan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.

Mengenai pekerja Thailand di Israel yang tewas akibat pecahan peluru, Kedutaan Besar Kerajaan Thailand di Tel Aviv terus berkoordinasi erat dengan pemerintah Israel untuk menyelesaikan prosedur pemulangan jenazah ke Thailand secepat mungkin.

Selain itu, Kementerian Luar Negeri, bersama dengan Kementerian Tenaga Kerja, sedang menindaklanjuti kompensasi dan tunjangan terkait dengan otoritas Israel.

Mengenai upaya untuk membantu tiga awak kapal Thailand di atas kapal Mayuree Naree, seperti yang dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri pada konferensi pers tanggal 20 Maret, Thailand telah mengoordinasikan permintaan bantuan dengan pihak berwenang di Oman dan Iran untuk menjajaki cara-cara membantu ketiga pelaut Thailand tersebut. Kedua pihak telah menyatakan kesediaan untuk menindaklanjuti dan mempertimbangkan bantuan.

Pada saat yang sama, lembaga-lembaga terkait di Thailand terus berkoordinasi erat dengan rekan-rekan mereka di Oman dan Iran untuk menemukan cara bantuan yang paling aman, meskipun operasi masih dibatasi oleh situasi keamanan di wilayah tersebut.

Kementerian Luar Negeri telah mendesak warga negara Thailand di Timur Tengah untuk memantau perkembangan melalui saluran resmi, secara teratur menilai keselamatan mereka, dan mengikuti saran resmi dengan ketat.

Sejak pecahnya konflik, total 1.283 warga negara Thailand telah dibantu untuk meninggalkan negara-negara di Timur Tengah, baik kembali ke Thailand atau melanjutkan perjalanan ke negara ketiga.

Pemerintah Thailand tetap berkomitmen untuk membantu warga negara Thailand di Timur Tengah yang terkena dampak pertempuran untuk meninggalkan daerah berbahaya sesegera mungkin dan dengan aman.

Share: