Kasus Kolera di Sudan Memburuk: 114 Meninggal. 1.330 Orang Terjangkit

Selain Kolera, wabah demam berdarah, malaria, campak, meningitis, dan hepatitis E juga dilaporkan di sejumlah provinsi Sudan.


Sudan, Suarathailand- Sputnik melaporkan perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Sudan, Shible Sahbani menyebut jumlah kasus kolera di Sudan telah mencapai 1.330 kasus, termasuk 114 kasus kematian, per Jumat (10/7).

Wilayah barat Sudan, Darfur dan Kordofan menjadi daerah dengan wabah Kolera yang mengkhawatirkan.

Sahbani menjelaskan saat ini terdapat "lebih dari 1.330 kasus terkonfirmasi dan 114 kasus kematian akibat penyakit tersebut. Kolera sebenarnya dapat dicegah, tetapi berpotensi menyebabkan kematian jika tidak segera diobati", seperti dikutip UN News.

Sahbani menyebut tingkat kasus kematian Kolera telah mencapai 13,7 persen, jauh di atas ambang batas WHO sebesar 1 persen.

Selain Kolera, wabah demam berdarah, malaria, campak, meningitis, dan hepatitis E juga dilaporkan di sejumlah provinsi.

"Kami meminta para mitra dan donor untuk membantu kami agar dapat mengakses dan mengirim pasokan dan fasilitas yang cukup di El-Obeid. Namun, kami tahu bahwa situasi di sana sangat, sangat buruk dan semakin memburuk dengan risiko wabah penyakit yang lebih tinggi, malnutrisi, kekerasan, termasuk kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak," katanya.

Ia menegaskan bahwa WHO telah mengirim 64 metrik ton pasokan pengobatan kolera ke Sudan.

Perwakilan Komite Internasional Palang Merah di Sudan, Adnan Hezam, mengatakan kepada RIA Novosti bahwa sekitar 80 persen fasilitas layanan kesehatan di daerah yang terimbas konflik tidak lagi berfungsi, sehingga sebagian besar masyarakat tidak mempunyai akses perawatan medis.

Sudan menyaksikan pertempuran sengit sejak April 2023 yang melibatkan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat pimpinan Mohamed Hamdan Dagalo, dan militer Sudan.

Sumber: SPutnik/RIA Novosti-OANA

Share: