Suhu musim panas yang sangat tinggi dapat kembali menurunkan kualitas beras Jepang tahun ini, seperti yang terjadi selama El Nino pada 2023–2024.
Jepang, Suarathailand- Kyodo News melaporkan fenomena El Nino kembali muncul untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir dan dikhawatirkan berkembang menjadi "super El Nino" di Jepang.
Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gelombang panas ekstrem di Jepang meskipun pola tersebut umumnya dikaitkan dengan musim panas yang lebih sejuk.
Para ahli memperingatkan suhu musim panas yang sangat tinggi dapat kembali menurunkan kualitas beras Jepang tahun ini, seperti yang terjadi selama El Nino pada 2023–2024.
Situasi tersebut mendorong para petani mulai beralih ke varietas padi yang lebih tahan terhadap suhu tinggi setelah kerusakan akibat cuaca panas pada panen 2023 memicu kelangkaan beras dan lonjakan harga.
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di zona pemantauan di lepas pantai Peru bertahan setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas nilai acuan selama lebih dari enam bulan.
Pakar meteorologi mengategorikan fenomena tersebut sebagai super El Nino apabila kenaikan suhu mencapai sedikitnya 2 derajat Celsius. Sejak 1949, hanya lima dari 19 kejadian El Nino yang mencapai ambang tersebut, dan para ahli memperkirakan kondisi itu dapat mulai terjadi bulan ini.
Dalam kondisi El Nino yang normal, aktivitas konveksi di sekitar Filipina melemah sehingga sistem tekanan tinggi di Samudra Pasifik tidak berkembang terlalu jauh ke utara. Kondisi tersebut biasanya meningkatkan tutupan awan di sekitar Jepang dan membuat musim panas menjadi lebih sejuk.
Namun, tahun ini para ahli memperkirakan perairan hangat di sekitar Filipina tetap mempertahankan aktivitas konveksi sehingga sistem tekanan tinggi Pasifik dapat bergerak lebih jauh ke utara. Mereka juga memperkirakan angin barat bergeser ke utara sehingga udara hangat dari wilayah selatan lebih mudah menyelimuti Jepang.
Prakiraan cuaca menunjukkan suhu selama periode Juli hingga September diperkirakan berada di atas rata-rata di Jepang bagian barat dan timur, serta di Kepulauan Okinawa dan Amami di selatan. Sementara itu, wilayah Jepang utara diperkirakan mengalami suhu mendekati atau sedikit di atas rata-rata.
Apabila gelombang panas ekstrem terjadi, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman serta menurunkan hasil sektor pertanian.
.




