>Jepang dan Arab Saudi telah sepakat untuk membentuk gugus tugas bersama untuk membahas isu-isu energi.
>Tujuan utama gugus tugas ini adalah untuk menjaga pasokan minyak mentah yang stabil sebagai respons terhadap krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
>Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan daring antara Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dan Menteri Energi Arab Saudi.
Saudi, Suarathailand- Jepang dan Arab Saudi sepakat untuk membentuk gugus tugas guna membahas isu-isu energi, termasuk kebutuhan untuk menjaga "pasokan minyak mentah yang stabil" seiring berlanjutnya ketegangan di Timur Tengah.
Keputusan tersebut dibuat selama pertemuan daring antara Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa dan Menteri Energi Arab Saudi Abdulaziz bin Salman Al-Saud.
Gugus tugas tersebut diharapkan akan memulai diskusi pada awal pekan depan. Peluncurannya bertujuan untuk memperkuat kerja sama keamanan energi antara kedua negara setelah krisis Timur Tengah.
Sebelumnya pada hari Kamis, Akazawa ikut serta dalam dialog ekonomi tingkat tinggi dengan Uni Eropa di Brussels. Delegasi Jepang juga termasuk Menteri Luar Negeri Iwao Horii.
Mewakili Uni Eropa adalah Stephane Sejourne, wakil presiden eksekutif Komisi Eropa untuk kemakmuran dan strategi industri, dan Maros Sefcovic, anggota komisi yang bertanggung jawab atas perdagangan dan keamanan ekonomi.
Para peserta meninjau situasi di Timur Tengah dan mengadopsi pernyataan bersama yang menggarisbawahi pentingnya "pasar energi yang stabil dan sangat transparan".
Mereka juga sepakat tentang perlunya melindungi rantai pasokan, termasuk navigasi kapal yang aman, rute transportasi maritim, dan infrastruktur terkait.
Jepang dan Uni Eropa juga berbagi kekhawatiran tentang "pemaksaan ekonomi" dan "kontrol ekspor yang tidak adil". Mereka menegaskan rencana untuk memperdalam kerja sama dalam mineral penting, baterai, pertahanan, ruang angkasa, dan energi bersih.
Akazawa juga bergabung dalam pertemuan daring tentang mineral penting dengan Kelompok Tujuh negara industri utama. Ini adalah pertemuan pertama di antara anggota G7, Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, bersama dengan Uni Eropa.
Pada konferensi pers, Akazawa mengatakan bahwa ia telah menyampaikan kekhawatiran Jepang kepada Uni Eropa terkait undang-undang akselerator industri.
Berdasarkan peraturan tersebut, kendaraan listrik dan barang-barang Jepang lainnya dapat dikeluarkan dari daftar produk Uni Eropa yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan publik.
Undang-undang tersebut, yang diumumkan pada bulan Maret, memberikan perlakuan istimewa kepada barang-barang yang diproduksi di dalam Uni Eropa. Akazawa mengatakan Jepang dan Uni Eropa telah sepakat untuk terus membahas masalah ini guna mencari solusi.



