Jepang Amankan Pasokan Minyak hingga Awal 2027 Meski Ada Blokade Hormuz

>Perdana Menteri Jepang saat ini berhati-hati dalam mengeluarkan permintaan penghematan energi kepada publik.

Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana untuk secara pribadi mendesak presiden Iran untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz.

>Jepang sedang berupaya melakukan de-eskalasi diplomatik dengan mencari pembicaraan telepon dengan para pemimpin Amerika Serikat dan Iran.


Tokyo, Suarathailand- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengindikasikan ia berhati-hati dalam mengeluarkan permintaan penghematan energi dalam waktu dekat, meskipun ada kekhawatiran bahwa negara tersebut dapat menghadapi kekurangan pasokan energi jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut.

"Saya belum siap untuk meminta (publik) untuk menghemat (energi) segera, dengan cara yang dapat menghambat aktivitas ekonomi," kata Takaichi pada pertemuan Komite Anggaran Dewan Penasihat. 

Namun, ia menambahkan, "Saya akan menilai secara fleksibel sambil memantau bagaimana situasi berkembang," tambahnya.

Takaichi juga menyatakan kesediaannya untuk mengadakan pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membantu meredakan situasi.

"Kita harus berkomunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran," kata perdana menteri. "Kami sedang mengupayakan pertemuan telepon dengan kedua presiden."

Setelah pembicaraan telepon pada hari Senin antara Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, Takaichi mengatakan, "Saya ingin bernegosiasi sendiri pada tahap selanjutnya."

Takaichi mengatakan dia akan mendesak presiden Iran untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz dan untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga.

Menanggapi seruan oposisi untuk memperpanjang subsidi listrik dan gas, perdana menteri mencatat bahwa konsumsi listrik dan gas diperkirakan akan menurun mulai April.

Share: