"Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyangkut kami," kata Menkeu Israel.
Tel Aviv, Suarathailand- Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel mengatakan Israel tidak terlibat dalam perundingan Amerika Serikat-Iran dan akan melanjutkan operasi militernya di Lebanon hingga Hizbullah dibubarkan.
"Israel tidak menjadi bagian dari perundingan dengan Iran atas pilihan kami sendiri," kata Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Israel bukan pihak dalam perundingan damai AS-Iran.
"Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran sama sekali tidak menyangkut kami," kata Smotrich.
Smotrich mengatakan militer Israel akan terus beroperasi di Lebanon dan tidak akan menarik diri dari zona keamanan yang dikuasainya, termasuk wilayah Kastel Beaufort, selama kelompok Hizbullah masih ada.
Ia menambahkan Israel tidak hanya menginginkan Hizbullah dilucuti dari persenjataan, tetapi juga dibubarkan dan tidak lagi menjadi bagian dari pemerintahan Lebanon.
"Kami tak hanya ingin Hizbullah kehilangan senjatanya, tetapi juga dibubarkan sepenuhnya, tidak menjadi bagian dari pemerintahan Lebanon, dan tidak memiliki kekuatan militer yang mengancam Israel," katanya.
Pernyataan itu disampaikan Smotrich di tengah meningkatnya perdebatan di kalangan politik dan keamanan Israel mengenai nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara AS dan Iran serta dampaknya terhadap konflik di Lebanon.
Israel dan Lebanon dijadwalkan menggelar putaran kelima perundingan langsung di Washington pada Selasa. Perundingan yang dimulai pada April itu merupakan bagian dari upaya mengakhiri konflik di Lebanon.
Menurut i24News, sejumlah pejabat Israel khawatir kesepakatan AS-Iran dapat memperkuat posisi Iran dan sekutunya di kawasan.
Di sisi lain, kritik terhadap pendekatan AS dalam berunding dengan Iran dan Hizbullah juga meningkat di dalam negeri Israel.
Menurut data resmi Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.
Israel hingga kini masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk kawasan yang telah dikuasainya selama puluhan tahun serta wilayah yang direbut dalam konflik 2023-2024.



