"AI menganalisis target berdasarkan data yang diterima dari berbagai sumber, namun sistem itu tidak mampu memantau kekuatan institusional dan ideologis Republik Islam Iran," kata Mohebi.
Teheran, Suarathailand- Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebi, menyatakan bahwa Amerika Serikat mengerahkan teknologi militer tercanggihnya—termasuk kecerdasan buatan (AI)—dalam perang baru-baru ini melawan Iran, namun pada akhirnya gagal menaklukkan ketahanan institusional, kohesi ideologis, persatuan, dan tekad nasional negara tersebut.
Mohebi mengatakan bahwa sistem yang digunakan Amerika Serikat selama agresi tersebut mengumpulkan dan memproses data dari satelit, pesawat nirawak (drone), radar, sensor, serta laporan intelijen lapangan, lalu memanfaatkan informasi itu dalam proses pengambilan keputusan.
"Selain sistem-sistem tersebut, teknologi juga digunakan untuk mengidentifikasi target, menilai kerusakan, dan melacak sumber daya manusia. Faktanya, kecerdasan buatan menjadi elemen pengoordinasi bagi sebagian besar jaringan teknologi ini," ujarnya.
Juru bicara IRGC tersebut menggambarkan serangan itu sebagai pengalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal penggunaan teknologi canggih, seraya menyebutkan bahwa Amerika Serikat mengerahkan kemampuan militer terbarunya ke medan perang namun "gagal di bidang-bidang tersebut."
"AI menganalisis target berdasarkan data yang diterima dari berbagai sumber, namun sistem itu tidak mampu memantau kekuatan institusional dan ideologis Republik Islam Iran," lanjut Mohebi.
Ia juga menyoroti kemampuan teknologi Iran, dengan mengatakan bahwa negara tersebut telah menggunakan kemampuan rudal dan drone-nya untuk mengganggu sebagian jaringan kekuatan musuh.
"Rudal-rudal Iran tidak lagi sekadar diluncurkan dari satu titik untuk mendarat di titik lain. Rudal-rudal ini memiliki kemampuan pemandu dan manuver, bahkan beberapa di antaranya dapat mengubah lintasan saat terbang untuk menghindari sistem pertahanan udara musuh," catat pejabat militer tersebut.
Mohebi menambahkan bahwa pendekatan Iran dalam perang teknologi ini bertujuan menyasar komponen-komponen pembentuk jaringan kekuatan musuh, alih-alih sekadar menimbulkan kerusakan fisik pada bangunan dan peralatan.
"Ketika sistem pemrosesan data menjadi sasaran, bukan hanya bangunan yang hancur; sebagian dari kemampuan pengambilan keputusan musuhlah yang sedang disasar," jelasnya.
"Demikian pula, saat sistem pertahanan udara dihancurkan, bukan sekadar rudal atau peralatan yang hilang; sebagian dari jaringan pertahanan udara musuh turut rusak," tegas Mohebi.
Juru bicara IRGC tersebut juga menekankan peran media dalam peperangan modern, seraya menyatakan bahwa konflik masa kini tidak lagi terbatas pada peralatan militer dan rudal semata. "Perang masa kini bukan sekadar perang peralatan dan rudal; ini juga merupakan perang narasi, persepsi, dan teknologi, di mana para profesional media berada di garis depan medan pertempuran ini," lanjutnya.
Mohebi menggambarkan serangan gencar AS-Israel baru-baru ini terhadap Iran sebagai "perang hibrida" yang mencakup berbagai ranah, dengan media sebagai salah satu arena terpentingnya.
"Berkat pengaruhnya yang luas terhadap opini publik, media mampu mengabadikan momen-momen dalam sejarah," tambahnya.
Pejabat IRGC tersebut menyatakan bahwa organisasi media memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan berbagai dimensi konflik ini, baik untuk generasi saat ini maupun generasi mendatang.
"Dewasa ini, media bukan sekadar penyampai cerita; media juga merupakan pencipta narasi dan realitas," lanjut Mohebi, seraya menambahkan, "Media membentuk persepsi, membangun pemahaman, dan memberikan wawasan baru kepada khalayak mengenai lingkungan di sekitar mereka." Farsnews



