Menlu Iran menegaskan untuk menjamin keamanan Selat Hormuz, tindakan agresi dan campur tangan ilegal AS—termasuk blokade maritim ilegal yang diberlakukan terhadap Iran—harus dihentikan.
Teheran, Suarathailand- Farsnews melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Amerika Serikat dan rezim Israel adalah satu-satunya pihak yang harus disalahkan atas ketidakamanan dan ketidakstabilan yang melanda Selat Hormuz—jalur sempit (chokepoint) energi terpenting di dunia.
"Masyarakat internasional harus meminta pertanggungjawaban pemerintah AS atas konsekuensi keamanan dan ekonomi yang timbul akibat penutupan Selat Hormuz," ujar Araqchi kepada mitranya dari Jerman, Johann Wadephul, dalam percakapan telepon pada hari Senin.
Ia menegaskan bahwa untuk menjamin keamanan Selat Hormuz, tindakan agresi dan campur tangan ilegal AS—termasuk blokade maritim ilegal yang diberlakukan terhadap Iran—harus dihentikan.
Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz—jalur vital energi global—sebagai tanggapan atas agresi AS-Israel yang tidak diprovokasi, beberapa hari setelah serangan tersebut dilancarkan pada 28 Februari.
AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni untuk mengakhiri situasi yang timbul akibat serangan tersebut. Teheran kemudian membuka kembali selat itu, namun terpaksa memberlakukan kembali penutupan setelah Washington mulai mengganggu mekanisme transit sah yang telah dirancang Teheran untuk pelayaran melalui jalur tersebut sesuai dengan kesepakatan itu.
Menlu Iran juga memberikan informasi kepada mitranya dari Jerman mengenai konsultasi yang sedang berlangsung dengan Oman yang bertujuan untuk menetapkan rute navigasi yang aman bagi pelayaran melalui selat tersebut.



