Houthi Ultimatum Turki dan Pakistan Tidak Terlibat dalam Konflik

Al-Houthi juga menuduh Arab Saudi berupaya membawa pejuang dari Suriah untuk terlibat dalam konflik.


Yaman, Suarathailand- Saluran televisi al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan Pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan Turkiye dan Pakistan agar tidak terlibat dalam konfrontasi yang semakin meningkat antara kelompoknya dengan Arab Saudi.

Al-Houthi menuduh Arab Saudi mencari dukungan militer dari Turkiye dan Pakistan seiring meningkatnya konflik, di wilayah Yaman maupun di sepanjang perbatasan Arab Saudi-Yaman.

Dia mendesak kedua negara itu untuk tidak "terseret" dalam konflik demi kepentingan politik atau ekonomi dengan Riyadh.

Al-Houthi juga menuduh Arab Saudi berupaya membawa pejuang dari Suriah untuk terlibat dalam konflik, tanpa memberikan bukti yang mendukung klaim tersebut.

Mengenai kemungkinan deeskalasi, pemimpin Houthi itu mengatakan kelompoknya tidak menuntut "syarat-syarat yang mustahil," seraya kembali menyerukan penghentian operasi militer Arab Saudi dan apa yang disebut Houthi sebagai blokade.

Dia menyerukan kepada para pendukungnya untuk mempertahankan mobilisasi dan terus memperkuat kemampuan militer serta keamanan kelompok tersebut di tengah meningkatnya konfrontasi.

Peringatan itu dilontarkan ketika konfrontasi Houthi-Arab Saudi semakin meluas melintasi perbatasan, dengan serangan udara Arab Saudi di Yaman dibalas dengan serangan rudal dan drone Houthi jauh ke dalam wilayah negara kerajaan tersebut.

Al-Houthi mengatakan pada Senin (21/9) bahwa Arab Saudi telah melancarkan 760 serangan udara sejak eskalasi terbaru dimulai.

Belum ada tanggapan dari Arab Saudi, Turkiye, maupun Pakistan atas pernyataan al-Houthi.

Ketiga negara tersebut menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah pada 7 Agustus di Kota Makkah, Arab Saudi, yang menetapkan bahwa setiap serangan terhadap satu dari ketiga negara penandatangan perjanjian itu akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.


Share: