"Kasus campak di Yaman menjadi perhatian khusus dengan lebih dari 22.000 kasus serta 128 kematian yang dilaporkan tahun ini."
Yaman, Suarathailand- Konflik antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah yang didukung Arab Saudi menyebabkan ribuan orang mengungsi
Eskalasi pertempuran di Yaman mendorong sistem kesehatan negara itu ke titik kritis atau "ambang kehancuran", demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa, seraya memperingatkan bahwa penyakit seperti kolera telah menyebar luas.
Serangan darat baru yang dilancarkan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi telah menewaskan ratusan orang dan memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut; data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan setidaknya 145.000 orang telah mengungsi hanya dalam bulan ini saja.
Sementara itu, sistem kesehatan negara tersebut—yang sudah melemah akibat perang saudara selama lebih dari satu dekade—kini berada di ambang kehancuran.
"Eskalasi terbaru di Yaman mendorong sistem kesehatan yang sudah rapuh menuju titik kritis," peringat Annette Heinzelmann, direktur kedaruratan WHO untuk wilayah Mediterania Timur.
Berbicara kepada para wartawan di Jenewa melalui sambungan video dari Kairo, ia menyoroti bagaimana situasi keamanan yang buruk, kerusakan infrastruktur, pengungsian tenaga kesehatan, kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis, serta terbatasnya akses ke wilayah pesisir barat Yaman telah menghalangi banyak orang untuk mendapatkan layanan yang mereka butuhkan.
"Sembilan fasilitas atau aset kesehatan kini telah rusak, tidak dapat beroperasi, ditutup, atau diserang secara langsung" di wilayah-wilayah yang terdampak parah seperti Taiz, Lahj, dan Hodeidah, ujar Heinzelmann.
Pada saat yang sama, "layanan komprehensif kedaruratan obstetri dan perawatan bayi baru lahir telah dihentikan di dua rumah sakit di Marib dan Ras Al-Arah karena staf serta kapasitas operasional dialihkan untuk penanganan trauma bagi korban luka yang terus berdatangan," ungkapnya.
Bahkan sebelum eskalasi terbaru ini terjadi, hanya sekitar 60 persen fasilitas kesehatan di Yaman yang berfungsi sepenuhnya, tambah Heinzelmann.
Negara itu juga telah menghadapi masalah gizi buruk yang tinggi serta wabah penyakit seperti kolera yang "sudah menyebar luas dalam skala besar," ujarnya.
Menurut data WHO, sejak awal tahun ini, Yaman telah mencatat hampir 8.000 kasus dugaan kolera—termasuk 22 kematian—dan lebih dari 9.600 kasus demam berdarah, dengan 37 orang meninggal dunia.
"Dan campak menjadi perhatian khusus, dengan lebih dari 22.000 kasus dugaan serta 128 kematian yang dilaporkan tahun ini," ujar Heinzelmann.
Kini, di tengah kondisi kepadatan penduduk yang parah di beberapa wilayah, sanitasi yang buruk, serta terbatasnya akses layanan kesehatan, WHO bersiap menghadapi wabah penyakit yang lebih banyak dan lebih besar.
"Ketika kita melihat adanya pergerakan penduduk dan orang-orang yang tinggal di lingkungan yang sangat padat dengan akses terbatas terhadap air serta sanitasi yang layak, faktor-faktor ini dapat memicu penyebaran kolera yang lebih luas," kata Heinzelmann.
Badan kesehatan PBB tersebut menyatakan telah menyalurkan hampir 60 ton pasokan medis ke 40 fasilitas kesehatan yang tersebar di 10 kegubernuran di Yaman.
"Namun, stok beberapa jenis pasokan penyelamat jiwa di gudang WHO di Aden sudah habis, termasuk perangkat penanganan trauma dan obat-obatan esensial," ungkap Heinzelmann sembari menyerukan perlunya tambahan dana.
Sejauh ini, WHO baru memperoleh dana sebesar 2 juta dolar AS dari total 9 juta dolar AS yang dibutuhkan untuk upaya penanganan tersebut, ujarnya.




