Trump kembali mengeklaim telah "menghentikan delapan perang", salah satunya perang antara India dan Pakistan.
AS, Suarathailand- Anadolu melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kesal karena Nobel Perdamaian tahun ini diberikan bukan kepada dirinya, tapi kepada "orang liberal yang bekerja untuk PBB".
Trump berkata "tak pernah mendengar sosok tersebut", merujuk kepada hakim Afrika Selatan Navi Pillay, mantan ketua komisi penyidikan PBB yang menyimpulkan Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, yang menjadi peraih Nobel Perdamaian 2026.
"Mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada orang yang saya, maupun orang lain, tak pernah dengar sebelumnya. Dia tokoh misterius," kata Trump saat berkampanye untuk Partai Republik di Syracuse, New York, menjelang pemilu 3 November.
"Tetapi, selamat buat dia," kata Trump menambahkan.
Donald Trump kembali mengeklaim telah "menghentikan delapan perang", salah satunya perang antara India dan Pakistan.
"Satu dari delapan perang itu saja, harusnya pantas diganjar Hadiah Nobel. Saya hentikan delapan perang. Belum ada presiden yang bisa seperti ini sebelum saya," ujar Trump.
Trump lantas menyampaikan kritik kerasnya kepada Komite Nobel serta Norwegia, negara asal Hadiah Nobel.
"Amerika Serikat, yang diwakili saya sebagai presidennya, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi saya tidak mendapatkannya. Ini adalah noda yang tak dapat terhapuskan bagi Norwegia," kata dia.
Ia mengeklaim hadiah tersebut "terhinakan selamanya oleh oknum-oknum radikal yang anti-demokrasi dan merupakan musuh peradaban".
"Kami tak akan melupakan Norwegia," kata Trump, sembari menambahkan bahwa kegagalan dirinya mendapat Hadiah Nobel "menjadi contoh lain dari bagaimana Norwegia dan negara-negara lain merongrong negara kita".
Selepas itu, Trump kembali melontarkan kecamannya terhadap Navi Pillay sebagai seseorang yang "tak dikenal siapapun" dan "membenci Israel" melalui platform Truth Social.
"Saya tak tahu apa-apa soal perempuan itu, dan orang lain pun tak tahu dia! Faktanya, sepanjang yang saya tahu, tak ada yang tahu dirinya selain fakta bahwa dia, jelas-jelas, membenci Israel," kata Trump.
"Hadiah Nobel 'Perdamaian' akan selamanya terdiskreditkan oleh segelintir Ideolog Radikal yang Anti-demokrasi dan merupakan Musuh Peradaban!" ujarnya lagi.
Trump sudah berulang kali menegaskan dirinya merupakan tokoh yang paling pantas mendapat Nobel Perdamaian dan terus mengungkapkan kekesalannya karena tidak mendapatkannya hingga saat ini.




