Thailand menyebut pasukan Kamboja menggunakan persenjataan berat untuk menargetkan area militer dan sipil, yang mengakibatkan korban jiwa di pihak militer dan pengungsian lebih dari 400.000 penduduk.
Bangkok, Suaratailand- Thailand secara resmi memberitahukan Dewan Keamanan PBB bahwa mereka menggunakan haknya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB.
Tindakan ini merupakan respons terhadap apa yang digambarkan Thailand sebagai serangan bersenjata tanpa provokasi oleh Kamboja di lima provinsi perbatasan Thailand, yang dilabeli sebagai "pelanggaran berat" kedaulatannya.
Thailand menyebut pasukan Kamboja menggunakan persenjataan berat untuk menargetkan area militer dan sipil, yang mengakibatkan korban jiwa di pihak militer dan pengungsian lebih dari 400.000 penduduk.
Sebagai bagian dari pemberitahuan PBB-nya, Thailand menuntut agar Kamboja menerima tanggung jawab penuh atas agresi tersebut, menghentikan semua permusuhan, dan menghadapi tekanan dari komunitas internasional.
Utusan Bangkok untuk PBB merinci peningkatan serangan di lima provinsi, dan menuntut Kamboja menerima tanggung jawab atas pelanggaran perbatasan.
Thailand secara resmi memberitahukan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa mereka menggunakan hak inheren untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB menyusul apa yang digambarkan sebagai serangan bersenjata tanpa provokasi oleh Kamboja di lima provinsi perbatasan.
Dalam surat tertanggal 9 Desember yang ditujukan kepada Presiden Dewan Keamanan, Duta Besar Thailand Cherdchai Chaivaivid merinci serangkaian insiden yang oleh Bangkok digambarkan sebagai "pelanggaran berat" terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Thailand, dan meminta agar surat tersebut diedarkan kepada semua anggota Dewan sebagai dokumen resmi.
Kronologi Serangan yang Diduga
Menurut keterangan Thailand, permusuhan dimulai pada tanggal 7 Desember pukul 14:15 ketika pasukan Kamboja melepaskan tembakan ke arah pasukan Thailand yang sedang melakukan pemeliharaan jalan di Distrik Kantharalak, Provinsi Si Sa Ket, yang langsung melukai dua tentara. Serangan berlanjut selama 35 menit.
Situasi memburuk secara dramatis pada hari berikutnya.
Pada pukul 05:05 tanggal 8 Desember, pasukan Kamboja melancarkan serangan yang oleh Thailand digambarkan sebagai "serangan tanpa provokasi" terhadap pangkalan militer Thailand di Provinsi Ubon Ratchathani, diikuti oleh "serangan yang meluas dan tanpa pandang bulu" di seluruh Buri Ram, Surin, Si Sa Ket, dan Ubon Ratchathani. Kemudian pada sore harinya, permusuhan menyebar ke Provinsi Sa Kaeo.
Pada pukul 18:00 tanggal 8 Desember, serangan tersebut telah mengakibatkan satu kematian dan 18 luka-luka di antara personel militer, termasuk tiga orang dalam kondisi kritis. Konflik tersebut memaksa lebih dari 400.000 penduduk untuk mengungsi dari rumah mereka, dengan dua warga sipil meninggal karena serangan jantung selama evakuasi.
Thailand menuduh Kamboja menggunakan persenjataan berat termasuk peluncur roket multi-laras, mortir, dan senapan mesin berat, "dengan sengaja menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil Thailand."
Justifikasi Hukum
Thailand menegaskan tindakan Kamboja melanggar Pasal 2(4) Piagam PBB, yang melarang penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial negara lain. Sebagai tanggapan, Bangkok menyatakan bahwa mereka "terpaksa" menggunakan hak membela diri berdasarkan Pasal 51 untuk melindungi kedaulatan dan rakyatnya.
Misi Thailand menekankan bahwa tindakan mereka "dilakukan dengan kepatuhan ketat terhadap hukum internasional, khususnya prinsip-prinsip kebutuhan dan proporsionalitas," dan "semata-mata ditujukan untuk menetralisir bahaya yang mengancam yang ditimbulkan oleh pasukan Kamboja, dengan upaya maksimal untuk menghindari kerugian terhadap warga sipil."
Pola Permusuhan
Thailand menempatkan serangan tersebut dalam apa yang digambarkan sebagai "pola permusuhan yang berulang dan meningkat," dengan mengutip dugaan "penempatan ranjau darat PMN-2 yang baru ditanam secara ilegal berulang kali di wilayah Thailand oleh Kamboja," yang telah menyebabkan cacat permanen bagi tujuh personel militer Thailand, dengan insiden terbaru pada 10 November.
Surat itu juga menuduh Kamboja melanggar Deklarasi Bersama yang ditandatangani oleh Perdana Menteri kedua negara pada tanggal 26 Oktober di Kuala Lumpur, yang difasilitasi oleh Perdana Menteri Malaysia sebagai ketua ASEAN dan Presiden AS.
Tuduhan Disinformasi
Thailand telah mengeluarkan pengaduan resmi yang menuduh pejabat Kamboja "dengan sengaja menyebarkan narasi palsu" yang menyatakan bahwa Thailand memulai serangan tersebut.
Bangkok "secara tegas menolak" tuduhan ini sebagai tidak berdasar, dan menyatakan bahwa tuduhan tersebut "bertujuan untuk memutarbalikkan fakta dan merusak kredibilitas Thailand di komunitas internasional."
Pemerintah Thailand menyatakan kecaman kerasnya terhadap apa yang digambarkan sebagai "tindakan agresi Kamboja, serangan bersenjata tanpa pandang bulu terhadap warga sipil, objek sipil, dan fasilitas umum, serta niatnya yang jelas untuk melukai personel Thailand."
Tuntutan dan Seruan Internasional
Thailand secara resmi menuntut agar Kamboja memberikan penjelasan lengkap, menerima tanggung jawab penuh atas tindakannya, dan segera menerapkan langkah-langkah pencegahan.
Komunikasi tersebut mendesak komunitas internasional untuk menekan Kamboja agar "menghentikan semua tindakan permusuhan dan provokasi" dan mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional.
Dengan mengacu pada Pasal 51, Thailand secara resmi memberitahukan Dewan Keamanan sesuai dengan protokol hukum internasional yang telah ditetapkan untuk pelaporan tindakan membela diri.
Tindakan ini berfungsi sebagai langkah formal dalam penyelesaian sengketa internasional seiring konflik memasuki hari ketiga, meskipun tidak mewajibkan intervensi Dewan Keamanan secara otomatis.




