Ekonom memperingatkan tarif baru di bawah Trump dapat menyusutkan ekonomi Thailand hingga 0,5% sekaligus memukul baht.
Bangkok, Suarathailand- Seorang ekonom terkemuka telah mendesak Thailand untuk bersiap menghadapi tarif baru AS setelah kerajaan itu masuk 10 besar negara dengan defisit perdagangan terbesar dengan AS pada tahun 2024.

Pusat Penelitian Kasikorn (KResearch) melaporkan data dari Januari hingga November tahun lalu mengungkapkan Thailand menikmati surplus perdagangan dengan AS senilai $41,5 miliar. Hasilnya, Thailand naik dari posisi ke-12 pada tahun 2023 ke posisi ke-10 di antara negara-negara dengan surplus perdagangan tertinggi dengan AS.
Tiongkok tetap berada di posisi teratas dengan surplus $270,4 miliar, diikuti oleh Meksiko sebesar $157,2 miliar, dan Vietnam sebesar $113,1 miliar.
AS telah mengumumkan tarif 25% untuk Kanada dan Meksiko, sementara mengenakan 10% untuk impor dari Tiongkok.
Menteri Perdagangan Thailand Pichai Naripthaphan terbang ke AS minggu lalu untuk membicarakan tarif perdagangan. AS adalah pasar ekspor terbesar Thailand, dengan nilai ekspor sebesar $54,95 miliar (1,84 triliun baht) pada tahun 2024, yang mencakup 18% dari total ekspor Thailand.
Burin Adulwattana, kepala ekonom di KResearch, mendesak pemerintah Thailand untuk menyiapkan langkah-langkah guna melawan rencana penyeimbangan kembali perdagangan yang akan dilakukan pemerintahan Trump, khususnya di sektor-sektor yang menjadi target reshoring, seperti industri otomotif, komputer, dan peralatan listrik.
Ia mengatakan untuk meredakan ketegangan perdagangan, Thailand mungkin perlu mempertimbangkan untuk meningkatkan impor AS seperti energi, kedelai, dan jagung.
Tarif yang lebih tinggi di bawah Trump dapat menyusutkan PDB Thailand sekitar 0,5% sekaligus menyebabkan depresiasi baht, prediksinya.
Langkah-langkah perdagangan dan tarif AS akan menjadi lebih jelas mulai 1 April, katanya.
“Thailand juga harus mengatasi masalah ekonomi dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada perdagangan dengan satu negara, dan mempertahankan sikap netral terhadap kekuatan global,” imbuh Burin.




