Sejak awal tahun 2024, 16,819 pasien telah dirawat di rumah sakit di Thailand karena komplikasi COVID, dengan 120 kematian.
Thailand mengalami lonjakan kasus COVID-19 yang signifikan namun tidak dilaporkan, baik rumah sakit pemerintah maupun swasta merasakan beban yang sama seiring meningkatnya jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap.
Tren ini mencerminkan situasi di negara lain seperti Singapura, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Prancis, yang didorong oleh varian baru dari garis keturunan KP (misalnya, KP.1, KP.2, KP.3).
Pemerintah di seluruh dunia, termasuk Thailand, sering meremehkan tingkat keparahan lonjakan ini. Meskipun ada klaim dari otoritas kesehatan bahwa varian KP baru tidak mudah menular atau tidak kebal, namun meningkatnya tingkat keparahan dan angka rawat inap menunjukkan hal sebaliknya.
Dari tanggal 12 hingga 18 Mei 2024, Thailand melaporkan 1.882 rawat inap baru akibat COVID, dengan rata-rata 269 pasien per hari, dan banyak pasien memerlukan perawatan ICU, oksigen tambahan, atau ventilasi mekanis. Orang lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta sangat berisiko. Pada periode ini juga terdapat 16 kematian baru akibat COVID-19.
Penyebaran virus sebenarnya di Thailand mungkin lebih luas dari yang dilaporkan, karena tidak ada data mengenai total infeksi, angka positif, rawat inap di ICU, atau penggunaan ventilator. Data rumah sakit swasta menunjukkan tingkat penerimaan pasien COVID lebih tinggi dibandingkan laporan resmi, mengingatkan pada lonjakan varian Delta
COVID yang berkepanjangan menimbulkan ancaman yang signifikan, dengan potensi dampak jangka panjang terhadap infrastruktur layanan kesehatan Thailand. Varian KP lebih beradaptasi terhadap persistensi virus, sehingga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang parah seperti kegagalan organ, masalah neurologis, stroke, pembekuan darah, sepsis, dan kanker.
Sejak awal tahun 2024, 16,819 pasien telah dirawat di rumah sakit di Thailand karena komplikasi COVID, dengan 120 kematian dilaporkan. Dengan adanya liburan mendatang dan pembukaan kembali sekolah, para ahli memperkirakan jumlah kasus akan terus meningkat, sehingga semakin menekan sistem layanan kesehatan. Lemahnya pemeriksaan kesehatan di bandara dan perbatasan juga dapat berkontribusi pada penyebaran varian baru. (thaiger)




