Operasional JAS 39 Gripen hanya menghabiskan Rp66 juta per jam dibanding Su-35 yang mencapai Rp510 juta per jam.
Saab Swedia pernah sangat getol menawarkan jet tempur JAS 39 Gripen kepada Indonesia.
Penawaran Saab Swedia dengan JAS 39 Gripen tak lain karena Indonesia membutuhkan jet tempur baru pengganti F-5 Tiger II.
Kala itu JAS 39 Gripen Saab Swedia harus bersaing dengan Su-35, dan jet tempur Rusia itulah yang akhirnya dipilih Indonesia.
JAS 39 Gripen kalah bukan karena mereka jelek.
Melihat spesifikasi pesawat Gripen, ia sudah mumpuni untuk memenuhi berbagai misi yang dibutuhkan Indonesia.
Dikutip dari Air Force Technology, varian paling canggih yakni NG, sudah mempunyai sistem datalink yang bisa membuatnya berkomunikasi dengan berbagai alutsista lain buatan NATO.
Ya, Gripen sebagai unsur udara bisa memberikan pandangan real time situasi pertempuran kepada unsur laut dan darat maupun udara lainnya.
Ia akan memberikan informasi kepada kawan dimana letak lawan dan kesulitan apa saja yang menghadang kepada kesatuan terkecil pun yakni personel.
Dengan adanya informasi ini maka pasukan kawan bisa update informasi jalannya pertempuran sehingga tidak akan membuang sumber daya percuma.
Kemudian setelah memberikan informasi tersebut, JAS 39 Gripen bisa sekalian membersihkan kekuatan musuh di depannya karena memiliki kemampuan Supression Enemy of Air Defenses (SEAD) dengan rudal jelajah Meteor berkemampuan BVR.
Adanya pod penargetan juga membantu Gipen menyerang sasaran secara presisi sehingga tak ada amunisi yang terbuang percuma.
Kokpit Gripen juga sudah full digital tanpa adanya indikator analog maupun jarum.
Hal ini akan mempermudah pilot mengoperasikan jet tempur atau malah avionik Gripen lah yang membantu pilot menerbangkannya.
Untuk urusan operasional JAS 39 Gripen tergolong murah.
Ia hanya menghabiskan Rp66 juta saja per jam dibanding Su-35 yang mencapai Rp 510 juta per jam.
Paling menarik ialah Gripen bisa lepas landas di jalan raya.
Hal ini dirancang lantaran doktrin pertahanan Swedia yang mobile dimana semua jalan raya mereka bisa didarati oleh jet tempur angkatan udara.
Urusan kecepatan Gripen tak jelek-jelek amat.
Dengan mesin besutan Volvo ia bisa terbang secepat 2 Mach.
Saab sendiri menawari Indonesia Gripen varian apapun, mau yang C, E atau NG mereka siap memasok hanya dalam jangka waktu 12 bulan dijamin unit pertama langsung tiba di tanah air.
Saking ngebetnya dengan pasar Indonesia, Saab sudah membuatkan poster JAS 39 Gripen dengan camo jet-jet tempur Indonesia macam Su-27/30 dan F-16.
"Gripen untuk Indonesia" tulis akun facebook resmi Saab pada 2019 lalu.
Tapi nampaknya memang JAS 39 Gripen sudah tak dipilih Indonesia sebagai jet tempur. (zonajakarta)




