Putra Aung Suu Kyi, Kim Aris, merasa lega, namun menyatakan bahwa ibunya yang berusia 81 tahun masih “ditahan secara tidak adil”
Myanmar, Suarathailand- Pihak berwenang Myanmar menyebut Suu Kyi kini berada dalam tahanan rumah di ibu kota, Nay Pyi Taw—tempat ia diasingkan sejak digulingkan dalam kudeta militer tahun 2021.
AFP tidak dapat segera menghubungi Aris—yang tinggal di Inggris—dan belum jelas bagaimana ia bisa berkomunikasi dengan ibunya, peraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun 1991 atas upayanya menghadirkan demokrasi di Myanmar.
Namun, dalam unggahan di Facebook, ia menyertakan foto yang memperlihatkan dirinya sedang berdiri di depan Kedutaan Besar Myanmar di London.
“Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung ibu saya dan saya. Saya yakin suara Anda semua turut mewujudkan momen ini,” tulis Aris.
“Akan tetapi, ibu saya kini berusia 81 tahun dan masih ditahan secara tidak adil. Satu kali percakapan tidak bisa dianggap sebagai akses keluarga yang rutin.”
Militer Myanmar menahan Suu Kyi dalam isolasi hampir total selama lima tahun setelah kudeta Februari 2021, yang mengakhiri eksperimen demokrasi selama satu dekade.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pihak berwenang semakin gencar menunjukkan pelonggaran terhadap penahanannya. Mereka merilis foto-foto yang memperlihatkan Suu Kyi dalam pertemuan pribadi, di tengah tuntutan para pendukungnya agar ada “bukti bahwa ia masih hidup”.
Pada hari Senin, pihak berwenang Myanmar menyatakan bahwa Suu Kyi menerima paket dari Raja Charles III dari Inggris, yang berisi dua buku tentang tanah serta “komunikasi diplomatik tertutup” dari sang Raja
Istana Buckingham tidak memberikan komentar mengenai isi komunikasi tersebut.
Pihak berwenang Myanmar menyatakan bahwa Suu Kyi telah dipindahkan dari penjara di Naypyidaw ke tahanan rumah pada bulan April. Pada bulan Agustus, mereka juga merilis foto-foto yang menunjukkan Suu Kyi bertemu dengan perwakilan Palang Merah Myanmar.
Setelah memimpin Myanmar sebagai kepala militer selama lima tahun, Min Aung Hlaing—sosok yang menggulingkan Suu Kyi dalam kudeta 2021—dilantik sebagai presiden sipil awal tahun ini.
Para analis menyebut pemilihan yang menempatkannya di jabatan tersebut sebagai sebuah sandiwara. Mereka menilai pelonggaran pembatasan terhadap Suu Kyi mungkin dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan legitimasi internasional.




