Serangan Iran Hancurkan 228 Aset Militer AS di 15 Pangkalan Regional

Iran targetkan hancurkan jaringan Komando, Kontrol, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (C4ISR) terintegrasi AS.


Teheran, Suarathailand- Farsnews melaporkan sejak pecahnya perang ketiga yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, serangan Iran telah merusak atau menghancurkan setidaknya 228 fasilitas dan aset militer di 15 pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Pukulan pertama dalam konflik apa pun sering dianggap paling menentukan, karena dapat menghilangkan sebagian besar kemampuan militer musuh dan mengganggu proses pengambilan keputusannya. Angkatan Bersenjata Iran berhasil melakukan operasi semacam itu selama perang baru-baru ini.

Dalam peperangan modern, penghancuran peralatan militer saja tidak selalu menetralkan kemampuan tempur suatu pasukan. 

Yang mempertahankan efektivitas operasional adalah jaringan Komando, Kontrol, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (C4ISR) terintegrasi yang menghubungkan sistem tempur, radar, sensor, pusat komando, sistem pertahanan udara, pesawat tempur, dan unit operasional.

Doktrin operasional militer AS dibangun di sekitar peperangan berbasis jaringan. Dalam struktur seperti itu, gangguan rantai komunikasi dapat secara signifikan menurunkan efektivitas sistem yang secara fisik masih utuh sekalipun.

Para ahli militer menggambarkan kondisi ini sebagai "pemadaman komando"—situasi di mana radar tetap beroperasi, sistem rudal siap menembak, dan peluncur tetap bersenjata, namun gangguan atau hilangnya jaringan komunikasi mengurangi kemampuan untuk bertukar informasi dan melakukan operasi terkoordinasi.

Dalam kerangka kerja ini, salah satu target utama yang dilaporkan adalah terminal komunikasi satelit Komando Pusat AS (CENTCOM) di Qatar, Bahrain, dan Kuwait.

Target lainnya adalah radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar. Seukuran gedung bertingkat, radar ini adalah salah satu komponen paling penting dari arsitektur peringatan rudal AS, yang mampu mendeteksi dan melacak peluncuran rudal dari jarak beberapa ribu kilometer.

Elemen kunci lain dari jaringan tersebut adalah radar AN/TPY-2, sensor utama dari sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Jika radar ini dinonaktifkan atau kinerjanya menurun, probabilitas kesalahan identifikasi target meningkat, berpotensi menyebabkan sistem pertahanan udara mengalihkan sebagian kapasitasnya untuk mencegat target palsu.

Secara keseluruhan, tujuan utama selama fase awal operasi adalah untuk mengganggu apa yang disebut rantai "sensor-ke-penembak"—urutan yang dimulai dengan deteksi target oleh sensor.

Berlanjut dengan transmisi dan pemrosesan informasi di pusat komando, dan berakhir dengan penerbitan perintah penembakan ke sistem tempur. Gangguan apa pun dalam rantai ini dapat mengurangi kecepatan respons, koordinasi antar unit militer, dan efektivitas keseluruhan sistem pertahanan.

Share: